Monoteisme Ibrahimik – Pemecah-belah Kebhinnekaan Manusia dan Dewa

Januari 2015
Sumber: Smash Christianity

Seluruh sejarah monoteisme Ibrahimik adalah bukti instabilitas keagamaan tiada henti, suasana konflik dan fragmentasi, segersang gurun tempat asalnya, akibat bigotri dan fanatisme mereka yang melekat.

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. (Lukas 12: 51-52)
Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. (Lukas 12: 51-52)

Yahudi lahir ketika mereka berpisah dari komunitas Semit politeistik (bani Kanaan) yang mengambil salah satu dari dewa-dewa panteon regional sebagai dewa tunggal sejati. Di antara umat Yahudi, selain Zelot dan Eseni, muncul faksi-faksi yang saling berhadapan semisal Farisi dan Saduki.

Dari Yahudi, orang-orang yang beriman bahwa Yeshua (Yesus) adalah Mesias berpisah dari orang-orang yang tidak mengakuinya sebagai Mesias, menyebut diri mereka “Kristiani”. Selanjutnya, ketika Kristen menyebar lewat Yunani dan Romawi bagai wabah, lahirlah banyak sekte Kristen.

Di abad ke-7, Islam muncul, mengadopsi kepercayaan Yudaisme dan Kristen dan kemudian berkonfrontasi dengan Yahudi dan Kristen dalam perang politik dan agama yang berdarah-darah, dan memecah mereka ke dalam sekte-sekte Islam lain.

Pada 1054, gereja pecah menjadi Ortodoks dan Katolik, dan dengan dua ini bentroklah Protestan ratusan tahun kemudian pada abad 16, yang pada gilirannya beranekaragam menjadi banyak denominasi (Lutheran, Metodis, Calvinis, Baptis, Anglikan, Pantekosta, Advent, dll). Dalam kata-kata filsuf Yunani abad kedua, Celsus:

Semangat kefaksian sedemikian hebat sampai-sampai hari ini pun di antara umat Kristen, jika semua manusia menjadi Kristen, mereka takkan menolerirnya. Mula-mula, ketika mereka berjumlah kecil, semuanya digerakkan oleh sentimen yang sama; setelah berjumlah banyak, mereka terpecah ke dalam sekte-sekte dan setiap sekte mencoba membentuk kelompok terpisah, sebagaimana mula-mula. Begitu tersekat dari mayoritas besar, mereka saling melaknat, mempunyai satu-satunya kesamaan, tentu saja nama Kristen, yang dengan nama ini mereka saling bertengkar.
—Celcus, A Discourse against the Christians, bab III

Dari perilaku tak konsisten dan memecah-belah ini, khas ibrahimisme, kaum ateis dan materialis mendapat sekumpulan omong-kosong untuk menciptakan citra palsu agama sebagai “secara universal tak konsisten dan memecah-belah”.

Orang Kristen tak hanya menyerang kaum pagan, mereka juga menyerang satu sama lain. Sejak abad kedua terdapat tak kurang dari 30 sekter Kristen berlainan, semuanya saling bertentangan. Berkat agama Kristen, Eropa mengenal konflik agama untuk pertama kalinya. Pada abad 11, Skisma Besar (Great Schism) memancing konfrontasi antara Kristen Katolik dan Kristen Ortodoks. Kedua Gereja “Romawi” saling membenci dengan sengit, sebagaimana semua sekte ibrahimik lain, dan para tentara salib barat bahkan menjarah dan memporak-porandakan Konstantinopel di timur. Di Zaman Pertengahan, kerajaan-kerajaan Kristen saling berperang sepanjang eksistensi mereka, bahkan demi pemikiran mereka sendiri tentang Kekristenan semisal Perang 30 Tahun, salah satu perang terburuk yang berkecamuk di antara orang-orang Eropa! Perang agama tidak eksis di Eropa pra-Kristen. Oh! Betapa banyak “persatuan” yang dibawa oleh agama pengkhotbah yahudi padang pasir abad pertama! bukan?
Orang Kristen tak hanya menyerang kaum pagan, mereka juga menyerang satu sama lain. Sejak abad kedua terdapat tak kurang dari 30 sekter Kristen berlainan, semuanya saling bertentangan. Berkat agama Kristen, Eropa mengenal konflik agama untuk pertama kalinya.
Pada abad 11, Skisma Besar (Great Schism) memancing konfrontasi antara Kristen Katolik dan Kristen Ortodoks. Kedua Gereja “Romawi” saling membenci dengan sengit, sebagaimana semua sekte ibrahimik lain, dan para tentara salib barat bahkan menjarah dan memporak-porandakan Konstantinopel di timur. Di Zaman Pertengahan, kerajaan-kerajaan Kristen saling berperang sepanjang eksistensi mereka, bahkan demi pemikiran mereka sendiri tentang Kekristenan semisal Perang 30 Tahun, salah satu perang terburuk yang berkecamuk di antara orang-orang Eropa! Perang agama tidak eksis di Eropa pra-Kristen.
Oh! Betapa banyak “persatuan” yang dibawa oleh agama pengkhotbah yahudi padang pasir abad pertama! bukan?

Dari awal, Kristen selalu bercirikan intoleransi dan kekerasan pendirian, menganggap dirinya satu-satunya jalan keselamatan untuk semua manusia di planet ini; ciri-ciri ini diwarisi oleh Yudaisme, sumber Kristen. Ini justru membuktikan bahwa keyakinan menganggap setara semua manusia adalah bentuk intoleransi terbesar, lantaran diasumsikan sebagai dogma keimanan bahwa satu agama atau moralitas adalah sah dan mengikat untuk semua manusia, dan oleh karenanya dipaksakan pada mereka, bahkan tanpa sekehendak mereka. Aspek ini kemudian diperbarui dengan doktrin-doktrin egaliter besar dan jahat: Revolusi Prancis dan Komunisme.

Kaum pagan, mengakui perbedaan di antara bangsa-bangsa, juga mengakui bahwa bangsa-bangsa menyembah dewa-dewa yang berbeda dari mereka dan mempunyai adat-istiadat berbeda, dan mereka takkan pernah terpikir untuk mengajarkan agama atau moral mereka sendiri di luar bangsa mereka. Akan konyol jika mereka mengajarkan penyembahan Odin kepada bangsa kulit hitam, sebagai contoh, dan mereka tak peduli bangsa-bangsa Semit menyembah Moloch.

Faksionasi Yudaisme yang terus-menerus telah menghasilkan lebih dari separuh kepercayaan keagamaan di dunia. Bagan ini memperlihatkan contoh faksi-faksi yang ada dan sudah mati. Bintang menunjukkan nabi baru dan tambahan kitab suci baru.
Faksionasi Yudaisme yang terus-menerus telah menghasilkan lebih dari separuh kepercayaan keagamaan di dunia. Bagan ini memperlihatkan contoh faksi-faksi yang ada dan sudah mati. Bintang menunjukkan nabi baru dan tambahan kitab suci baru.
“Tuhan” Anda memerintahkan Anda untuk berlutut dan memberikan pipi kiri. Odin meminta Anda berdiri dan bertarung demi keluarga dan harta Anda.
“Tuhan” Anda memerintahkan Anda untuk berlutut dan memberikan pipi kiri. Odin meminta Anda berdiri dan bertarung demi keluarga dan harta Anda.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.