Orang Amerika Diminta Memilih Nasionalisme atau Globalisme

Oleh: Jerry Davich
9 Juni 2017
Sumber: Chicago Tribune

Jika ada hikmah dari pemerintahan Trump yang diperangi, maka hikmahnya adalah presiden sedang memaksa kita untuk membuat keputusan sulit tentang negara kita, planet kita, dan diri kita.

Seorang aktivis lingkungan Korea Selatan memprotes penarikan diri AS dari kesepakatan iklim Paris, di depan Kedubes AS di Seoul, Korea Selatan, pada 5 Juni. Nyanyiannya berbunyi “Bumi yang menyesakkan dan penarikan diri AS dari kesepakatan iklim Paris.” (Ahn Young-joon/AP)

Sebagai permulaan, mana yang lebih kita pedulikan, negara kita atau planet kita? Nasionalisme atau globalisme? Sikap dan keputusan kebijakan “Amerika Dulu”-nya Presiden Trump mendorong kita untuk memilih yang satu atau yang lain, untuk mempertahankan yang satu terhadap yang lain, dan untuk menganggap mereka terpisah satu sama lain.

Dalam skenario ideal, kita bisa memilih keduanya, mengingat bahwa tanpa sebuah planet tidak akan ada Amerika Serikat. Idealnya, mayoritas kita akan lebih suka membuat Amerika hebat lagi sambil juga membuat Bumi hebat lagi. Ini terasa menantang, jika bukan mustahil, di bawah kepemimpinan Trump.

Terlepas dari pertunjukan ngalor-ngidulnya saat bepergian ke luar negeri baru-baru ini, Trump tak berupaya besar untuk memulai orkes dengan harmoni “kita adalah dunia”.

Ini tidak luput dari perhatian penonton kritikus global.

Keputusan kontroversial Trump untuk menarik diri dari kesepakatan iklim Paris yang bersejarah memicu kemarahan dari seluruh dunia. Namun di dalam negeri sini, para pendukungnya menggembar-gemborkan pembelaannya atas pekerja Amerika, perusahaan Amerika, manufaktur Amerika.

Inikah sikap yang ingin dimanufaktur dan diekspor ke seluruh dunia oleh mayoritas orang Amerika? Saya ragu.

Seperti telah saya catat sebelumnya, saya memandang negara kita sebagai masyarakat terkurung di tengah skema global. Kebanyakan orang Amerika, saya yakin, akan lebih suka tetap seperti ini, serupa dengan masyarakat-masyarakat terkurung di banyak kota Amerika.

Ini lebih aman. Ini lebih stabil. Ini lebih, well, Amerika.

Karena hal ini, kita tipikalnya memandang hidup kita, dan sebagian besar urusan sehari-hari kita, dengan mentalitas titik nol kesadaran global. Kita adalah titik nol dan segala hal lain mengambil tempat beriak-riak di sekeliling kita dari peta “Anda di Sini” milik kita. (Ground zero mentality atau mentalitas titik nol atau adalah pandangan bahwa semua budaya dan tradisi di dalam masyarakat harus dimusnahkan total atau dibuang dan sebuah budaya baru harus menggantikannya, memulai dari nol. Seluruh sejarah sebelumnya dianggap tak relevan, idealnya dibersihkan dan digantikan dari bawah ke atas.—penj.)

Jenis pandangan swa-sentris ini mencerminkan janji-janji Amerika Dulu-nya presiden kita.

Trump terlihat tidak puas hanya menulis sebuah bab baru mengenai kebijakan luar negeri AS. Dia bertekad mengarang bukunya sendiri, menggunakan tinta dari mata air dukungan nasionalisme dari jutaan orang Amerika.

Orang-orang Amerika ini, termasuk banyak penduduk Northwest Indiana (menurut para pembaca kolom ini), menyambut sikap Amerika Dulu-nya Trump menyangkut isu-isu global.

“Akhirnya, kita punya seseorang yang menyuarakan perasaan sebagian besar orang Amerika, orang Amerika sejati,” kata Gary Franklin dari Cedar Lake, yang mengaku memilih Trump. “Kita lelah menyelamatkan planet ini sementara negara kita sendiri sedang dihancurkan dari dalam.”

Pembaca semacam Franklin memberitahu saya bahwa mereka juga sangat gembira Trump mengerahkan pengaruhnya—mengerahkan pengaruh kita—selama lawatan luar negeri ke beberapa negara lain. Mereka terutama menikmati bagaimana Trump tampak meninggalkan beberapa anggota NATO dengan penuh penghinaan sebelum dia kembali ke Gedung Putih.

Reaksi spontan saya adalah menantang para pendukung untuk pertama-tama mendefinisikan apa kepanjangan dari akronim NATO, tapi cekcok semacam ini untuk kolom lain. Saya yakin terlalu banyak pendukung Trump di sudut negara bagian ini dimabukkan oleh sloki-sloki “nasionalisme” dan lapar akan lebih banyak edukasi tentang isu-isu global yang kompleks.

Mereka menaruh keimanan pada seorang pengaku miliarder yang, saya yakin, tidak mengerti arti keimanan. Tapi ini tidak menghentikan presiden kita dari berkhotbah kepada orang beriman layaknya pastor Minggu pagi.

“Sebagaimana Alkitab katakan pada kita, kita tahu bahwa kebenaran akan tegak,” khotbah Trump pada hari Kamis.

Dia berkata demikian kepada paduan suara Kristen konservatif dalam sebuah konferensi evangelis di Washington D.C., yang diadakan oleh Faith and Freedom Coalition. Dia mengucapkan kata-kata itu sebagaimana diungkap dalam kesaksian terbuka mantan direktur FBI James Comey di Capitol Hill.

Setelah terkekeh soal Trump yang mengutip Alkitab, saya bertanya-tanya kebenaran mana yang dia rujuk – kebenarannya? Kebenaran Kristen? Kebenaran Tuhan? Kebenaran sejati? Sudah pasti bukan kebenaran Comey.

Seiring beresnya kontroversi seputar testimoni bersejarah Comey, kita harus membereskan di sisi sejarah mana kita akan mendarat. Apa Anda benar-benar percaya bahwa Amerika harus didahulukan, daripada urusan global yang bertentangan? Kalau begitu, tak masalah sepanjang Anda tahu apa yang mungkin diperlukan, secara historis.

Pendirian Anda, seperti halnya saya, tidak banyak berarti dalam gambaran besar. Opini kita tidak akan mengubah pikiran Trump, atau menggoyang para pengkritiknya, atau mengubah banyak orang dari opini mereka sendiri. Setelah menulis ratusan kolom suratkabar selama 20 tahun, itulah kebenaran saya.

Sabtu malam lalu di Soldier Field di Chicago, penyanyi utama grup rock Irlandia U2 mau tak mau memajukan kebenaran miliknya. Bono telah menyuarakan kebenarannya selama 40 tahun, sejak saya mulai menikmati musik mereka selama masa SMA.

Saat puluhan ribu penggemar menyanyikan “Pride (In the Name of Love)”, Bono mempersembahkan lagu 1984 itu untuk “mereka yang masih memegang Mimpi Amerika, dan mereka yang melepasnya.”

Apakah Anda masih memegangnya, atau mulai melepasnya? Inilah tes lakmus yang bagus untuk Anda. (Litmus test atau tes lakmus adalah tes untuk membuat penilaian tentang apakah seseorang atau sesuatu dapat diterima—penj.)

Setelah Trump menarik diri dari kesepakatan iklim Paris, mantan Menteri Luar Negeri John Kerry berkata kepada CBS Evening News, “Langkah ini tidak membuat Amerika dulu. Ini membuat Amerika belakangan.”

Anda setuju atau tidak setuju?

Setuju atau tidak, Anda harus memiliki pendirian kokoh mengenai isu nasionalisme versus globalisme. Setiap orang dewasa Amerika harus punya pendirian demikian.

Ini bukan hanya mendefinisikan nilai-nilai kolektif bangsa kita. Ini mendefinisikan setiap diri kita secara perorangan.

Seperti saya katakan, justru ini adalah sisi terang yang mengelilingi awan gelap kontroversi yang melayang di atas pemerintahan Trump.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.