Globalis vs. Nasionalis – Yang Mana Anda?

Oleh: Ben Green
8 Maret 2017
Sumber: Khaos Control Cloud

Telusuri kembali sejarah dan Anda akan dapati ide-ide yang menimbulkan polaritas menyeret manusia ke dalam kubu-kubu bersaing, menyelesaikan perselisihan di kotak suara dan medan perang. Monarkisme vs. Republikanisme merobek-robek Inggris dalam Perang Sipil kita, mencapai puncaknya dengan pemenggalan Charles I. Komunisme vs. Kapitalisme memerciki peta dunia dengan tinta merah dan biru, menempatkan Timur lawan Barat di ambang Armageddon nuklir. Kini sebuah perpecahan lain telah membentang, Globalisme vs. Nasionalisme. Dua visi pemerintahan yang akan mengundang orang-orang untuk memilih satu sisi.

Memahami apa arti masing-masing, mengidentifikasi di mana para tokoh pemimpin berpijak, akan memberi Anda alat tak ternilai untuk memahami dunia kita. Anda akan tahu mengapa pemerintah bertindak seperti sekarang dan apa yang mungkin mereka lakukan selanjutnya. Akan ada perbedaan nyata ketika Anda merencanakan masa depan, memberi Anda kepercayaan diri lebih besar dalam pengambilan keputusan.

Di akhir postingan ini kami menyertakan tautan ke sebuah kuis sehingga Anda bisa mencaritahu sendiri!

Jadi, apa itu Globalisme dan bagaimana saya tahu jika saya seorang Globalis?

Mata globalis tidak melihat perbatasan nasional. Mengambil ‘pandangan dunia’, cita-cita mereka adalah kebebasan bergerak, bagi barang dan jasa dan manusia lintas perbatasan. Mereka menyukai kerjasama internasional untuk mewujudkannya. Ini mengambil beberapa bentuk dan melibatkan organisasi ‘supranasional’ yang berdiri di atas keributan masing-masing negara-bangsa. Tren ke arah integrasi lebih luas, dengan perdagangan, perjalanan, dan berbagi budaya yang lebih luas, adalah apa yang dikenal sebagai ‘Globalisasi’.

Perjanjian perdagangan bebas (FTA) adalah satu cara menurunkan rintangan arus bebas barang dan jasa. Ini adalah traktat antara negara-negara yang mengurangi tarif impor dan ekspor, yaitu pajak negara atas produk asing yang masuk dan produk domestik yang keluar. Mereka juga bertujuan meniadakan perbedaan dalam standar regulasi negara-negara, jadi pemenuhan standar di negara Anda lebih mungkin memenuhi standar di negara lain, menghemat waktu mencari dan menerapkan aturan berbeda-beda. FTA juga hendak meningkatkan investasi bisnis antara para penandatangannya. Contoh FTA adalah North American Free Trade Agreement (NAFTA) antara Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Impian kebebasan bergerak telah diwujudkan sepenuhnya oleh Uni Eropa, organisasi supranasional yang barangkali paling mengejawantahkan Globalisme. Jika Anda memasuki sebuah negara UE di ‘Schengen Area’-nya, sebagai contoh, Anda hampir tidak akan memperhatikan. Selain tanda selamat datang, Anda tidak perlu menunjukkan paspor atau bentuk dokumentasi apapun. Ingin bekerja di negara UE lain? Hak Anda untuk itu dijamin oleh traktat. Dan Euro berarti Anda tidak perlu menukar mata uang di dalam zona Eropa.

OK, jadi apa itu seorang Nasionalis?

Bagi Nasionalis, negara-bangsa berada di atas segalanya. Negara harus diatur agar kepentingan mereka, kepentingan warga mereka, dan industri mereka, didahulukan. Untuk bebas mendahulukan diri mereka, mereka harus berdaulat, atau dapat bertindak tanpa otoritas lebih tinggi yang mengatur di atas mereka. Karena organisasi sperti UE dan PBB bertindak dengan cara ini, mereka cenderung tidak menyukai keanggotaan badan-badan semacam itu.

Belum cukup sampai di situ. Bagi Nasionalis, bangsa-bangsa diidentifikasi dengan sebuah budaya unik, satu seperangkat kebiasaan khas, dan sejarah bersama. Nasionalis berargumen ini membantu mengikat masyarakat. Itu juga alasan kenapa mereka benci impor media asing dan imigrasi masal yang dihasilkan oleh Globalisasi, berhubung keduanya mengancam mengikis identitas nasional. Negara yang terfragmentasi, dengan budaya-budaya dan loyalitas-loyalitas yang bersaing, adalah bahaya nyata bagi seorang Nasionalis.

Secara ekonomi, berbanding terbalik dengan perdagangan bebas, Nasionalis giat melindungi industri pribumi dari kompetisi asing yang ‘tidak adil’. Dikenal sebagai proteksionisme, mereka akan mengenakan tarif pada barang asing dan berbuat sebaik-baiknya untuk mencegah perusahaan domestik melakukan relokasi, atau alih daya (outsourcing), ke tempat lain di mana biaya operasionalnya mungkin lebih rendah. Untuk alasan inilah, Nasionalis semacam Donald Trump menunjuk Rust Belt di AS, di mana pabrik-pabrik ditutup dan pengangguran tinggi, sebagai korban FTA secara umum dan NAFTA secara khusus. Produk yang menyandang label ‘Made in Amerika’ di rak-rak Amerika merupakan, bagi Presiden Trump, sumber kebanggaan. Sedangkan stempel ‘Made in China’ adalah biang kesengsaraan.

Menantang imigrasi tak terbatas, filosofi Nasionalis Presiden saat ini akan menghasilkan situasi amat berbeda di perbatasan AS-Meksiko dibanding yang ada di perbatasan Prancis-Jerman. Alih-alih perbatasan terbuka Schengen Area, Presiden Trump telah menjanjikan pembangunan sebuah “tembok perbatasan selatan yang tidak dapat ditembus, fisik, tinggi, kuat, indah” untuk secara fisik menghentikan pergerakan bebas. Dan jika Anda ingin bekerja di AS, Anda akan segera butuh keterampilan spesifik tertentu untuk mengisi celah di pasar tenaga kerjanya. Jadi, sementara itu tak masalah bagi Liam Neeson, pilihan kita lebih terbatas. Sekarang tidak ada, pun tidak akan ada, hak otomatis untuk bekerja di AS. Orang Meksiko juga akan bertukar Peso dengan Dolar untuk masa depan yang dapat diduga. Nasionalis memandang mata uang supranasional, semisal Euro, sebagai penyerahan kedaulatan karena menjadi bagian dari mata uang bersama akan mengakibatkan kurangnya kontrol atas suku bunga, inflasi, dan banyak lagi elemen fiskal.

Apa artinya ini untuk saya?

Sebagaimana dalam bidang-bidang kehidupan lain, ada baiknya memandang perpecahan Globalis/Nasionalis sebagai sebuah spektrum, dari hitam ke putih dengan corak abu-abu di tengahnya. Segelintir ingin terbuka total atau tertutup total.

Di satu sisi, Nasionalis memandang UE sedang menempuh jalan tak terelakkan di mana anggota-anggotanya digabung menjadi Eropa Serikat tunggal, tapi UE masih kekurangan banyak ornamen negara-bangsa, termasuk tentara, dan bahkan krisis zona Eropa tidak membuatnya sepakat akan anggaran bersama seperti uni-uni mata uang lain.

Di sisi lain, meski voting Brexit adalah penolakan terhadap kebebasan bergerak milik UE, itu jelas bukan tuntutan bagi Britania untuk menjadi proteksionis. Pemerintah Inggris berusaha menjaga tarif pada angka minimum, dan peluang investasi tetap tinggi, dengan FTA UE. Dan telah membentuk Department for International Trade sebagai mesin untuk menandatangani FTA baru di seluruh dunia, dari China sampai Chile. AS yang proteksionis di bawah Trump mungkin menjadi yang pertama, ketimbang UE, berurusan dengan kita.

Imigrasi adalah bidang di mana arus baru menuju Nasionalisme, menjauh dari Globalisme yang telah berkuasa sejak Perang Dunia Kedua, paling mungkin membuat perbedaan. Di sini argumen-argumen, tentang dampak ekonominya, budayanya, dan keamanannya, mengamuk paling ganas. Di sini terdapat tekanan paling kuat terhadap politisi untuk mundur dari [kebijakan] perbatasan terbuka.

Di Inggris, meski kita masih tidak tahu apa yang nanti terjadi dengan Brexit, kemungkinan besar itu berarti bahwa walaupun warga negara UE yang bekerja di sini boleh tetap tinggal, migran masa depan akan harus memenuhi persyaratan lebih ketat sebelum mengambil pekerjaan. Alih-alih berbuat sesuatu, mereka akan butuh keterampilan tertentu untuk menjalani pekerjaan tertentu di mana terdapat kekurangan pekerja, seperti menjadi dokter NHS.

Perasaan déjà vu

Sejarah tidak berbaris ke satu arah – Globalisasi bukan sesuatu yang tak terhindari dan tidak akan berlanjut selamanya. Kita pernah melihat gerakan menuju kemunduran keterbukaan pasca pergolakan besar di masa lalu. Krisis Ekonomi 2008 adalah contoh terbaru. Itu terjadi karena ‘Depresi Panjang’, dua puluh tahun pertumbuhan rendah di akhir abad 19, dan itu terjadi setelah Perang Dunia Satu. Keterlibatan Amerika dalam konflik tersebut dan pandangan mereka tentang bagaimana itu mempengaruhi dunia berujung pada penolakan mereka untuk bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa. AS juga memperkuat aturan perdagangan dan imigrasi secara signifikan pada 1920-an.

Ketika debat-debat lama tentang langkah perubahan ditinjau ulang, dan dunia tampak lebih tak menentu, maka masuk akal untuk fokus menjadi seefisien mungkin. Untuk menghasilkan setiap pound, dolar, euro, atau peso, melangkahlah sejauh itu sehingga Anda dapat fokus mengalahkan pesaing Anda. Ketika Anda menghadapi masa-masa seperti ini, adalah masuk akal untuk mencoba Khaos Control Cloud, solusi ERP on the Go yang memperkenankan Anda mengontrol kekacauan bisnis Anda – di manapun terdapat koneksi internet.

Dan, sebagaimana saya janjikan di awal artikel, inilah kuisnya, Globalis vs. Nasionalis – Yang Mana Anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s