Nasionalis Kulit Putih Berduyun-duyun Lakukan Tes Genetik Leluhur. Sebagian Tidak Suka Dengan Hasilnya.

Oleh: Eric Boodman
16 Agustus 2017
Sumber: Statnews

Itu momen kemenangan aneh atas rasisme: Craig Cobb, supremasis kulit putih penyandang senapan, berdandan setelan gelap dan dasi merah untuk acara TV siang, mendengar bahwa tes DNA mengungkap leluhurnya hanya “86% Eropa, dan…14% Afrika Sub-Sahara”. Hadirin di studio bergemuruh, tertawa, bersorak. Dan Cobb—yang pada 2013 dituntut dengan tuduhan meneror orang-orang saat berupaya menciptakan enklaf khusus kulit putih di North Dakota—bereaksi seperti pecundang dongkol di halaman sekolah.

Di sebuah acara TV siang, supremasis kulit putih Craig Cobb menemukan bahwa tes DNA mengungkap leluhurnya “86% Eropa, dan…14% Afrika Sub-Sahara”.

“Tunggu sebentar, tunggu sebentar, tahan, tunggu sebentar,” katanya, berusaha memasang senyum mahatahu. “Ini dinamakan derau statistik.”

Lantas, menurut Southern Poverty Law Center, dia lari ke situs nasionalis kulit putih Stormfront untuk membantah hasil tersebut. Ini tidak aneh: dengan berkembangnya tes genetik liur-pada-cangkir, terdapat tren nasionalis kulit putih menggunakan layanan-layanan ini untuk membuktikan identitas ras mereka, dan kemudian menggunakan forum-forum daring untuk membahas hasilnya.

Tapi seperti Cobb, banyak orang kecewa mendapati leluhur mereka tidak se-“putih” yang mereka harapkan. Dalam sebuah studi baru, sosiolog Aaron Panofsky dan Joan Donovan memeriksa postingan-postingan di Stormfront setara bertahun-tahun untuk melihat bagaimana para anggota menangani kabar tersebut.

Sungguh mengesankan, kata mereka, bahwa para nasionalis kulit putih mau memposting hasil-hasil ini secara daring. Biar bagaimanapun, seperti dikatakan Panofsky, “pada dasarnya mereka akan bilang, jika Anda ingin menjadi anggota Stormfront, Anda harus 100% kulit putih Eropa, bukan Yahudi”.

Tapi alih-alih menolak anggota yang memperoleh hasil sebaliknya, kata Donovan, pembicaraan “amat sangat” terfokus pada membantu orang tersebut untuk memikirkan kembali keabsahan tes genetiknya. Dan beberapa kupasan ini—seraya timbul dari rasisme mendalam—lekat dengan kecemasan para ilmuwan terhadap tes genetik komersil.

Panofsky dan Donovan mempresentasikan temuan mereka di konferensi sosiologi di Montreal pada hari Senin. Pemilihan waktunya—sekitar 48 jam setelah unjuk rasa keras nasionalis kulit putih di Charlottesville, Va.—adalah kebetulan. Tapi analisanya menyediakan jendela berguna, walau menakutkan, tentang bagaimana kelompok-kelompok ekstrimis ini memikirkan gen mereka.

Memperhitungkan hasil tes

Stormfront diluncurkan pada pertengahan 1990-an oleh Don Black, mantan grand wizard Ku Klux Klan. Keterampilannya dalam pemrograman komputer terkait langsung dengan kegiatan kriminalnya: dia mempelajarinya sewaktu dipenjara atas percobaan menyerbu negara pulau Dominika di Karibia pada 1981, dan kemudian bekerja sebagai pengembang web setelah bebas. Artinya, situs ini bermula dari tahun-tahun awal internet, membentuk semacam arsip kebencian daring.

Guna menemukan komentar relevan dalam 12 juta postingan yang ditulis oleh lebih dari 300.000 anggota, kedua pengarang studi merekrut sebuah tim di Universitas California, Los Angeles, untuk mencari istilah-istilah seperti “tes DNA”, “haplotipe”, “23andMe”, dan “National Geographic”. Lantas para peneliti ini menyisir postingan-postingan yang mereka temukan, belum lagi banyak lainnya sebagai latar belakang. Donovan, yang pindah dari UCLA ke Data & Society Research Institute, menaksir bahwa dirinya menghabiskan sekitar 4 jam per hari untuk membaca Stormfront pada 2016. Tim ini menyaring temuan mereka menjadi 70 thread diskusi di mana 153 pengguna memposting hasil tes genetik leluhur mereka, dengan lebih dari 3.000 post perorangan.

Kurang-lebih sepertiga dari orang-orang yang memposting hasil tesnya senang dengan apa yang mereka dapat. “Darah sangat murni,” ujar pengguna dengan username Sloth. Tapi mayoritas tidak merasakan situasi tersebut. Justru, komunitas sering membantu mereka menolak tes, atau berdebat dengan hasilnya.

Sebagian menolak tes itu sama sekali, menyebut pengetahuan seseorang tentang genealoginya sendiri lebih baik dari apapun yang diungkap oleh tes genetik. “Mereka akan bicara soal tes cermin,” kata Panofsky, sosiolog sains di Institute for Society and Genetics UCLA. “Mereka akan mengatakan hal-hal seperti, ‘Kalau Anda lihat seorang Yahudi di cermin menatap balik Anda, itu masalah; kalau tidak, Anda baik-baik saja.’” Yang lain, tuturnya, menanggapi hasil tes genetik yang tak diinginkan dengan berkata bahwa jenis-jenis tes itu tidak penting jika Anda betul-betul berkomitmen menjadi nasionalis kulit putih. Tapi yang lain lagi mencoba mendiskreditkan tes genetik tersebut sebagai konspirasi Yahudi “yang berusaha membingungkan kulit putih Amerika sejati mengenai leluhur mereka”, kata Panofsky.

Tapi sebagian mengambil perspektif lebih ilmiah dalam kupasan mereka, menyangsikan metode perusahaan-perusahaan ini dalam menentukan leluhur—khususnya bagaimana perusahaan memilih orang-orang yang material genetiknya akan dianggap rujukan untuk kelompok geografis tertentu.

Dan kritikan itu, walau dimotivasi oleh pemikiran amat berbeda, juga dilontarkan oleh beberapa peneliti, bahkan ketika ilmuwan lain telah memakai data serupa untuk lebih memahami bagaimana populasi bergerak dan berubah.

“Ada literatur kritis arus utama mengenai tes-tes genetik leluhur—para ahli genetika, antropologi, dan sosiologi yang menyebutkan sama persis: bahwa tes-tes ini memberi ilusi kepastian, tapi sekali Anda tahu bagaimana sosis dibuat, Anda harus jauh lebih waspada terhadap hasil-hasil ini,” kata Panofsky.

Kaidah genetik komunitas

Perusahaan semacam Ancestry.com dan 23andMe sangat teliti dalam cara menganalisa material genetik Anda. Sebagai poin perbandingan, mereka memakai set data yang sudah ada dan beberapa populasi rujukan yang telah mereka rekrut. Protokolnya meliputi material genetik dari ribuan individu, dan mempertimbangkan ribuan variasi genetik.

“Ketika seorang peserta riset 23andMe memberitahu kami bahwa dia punya empat kakek-nenek yang semuanya lahir di negara sama—dan negara itu bukan negara kolonial, seperti AS, Kanada, atau Australia—dia menjadi kandidat untuk dimasukkan dalam data rujukan,” jelas Jhulianna Cintron, product specialist di 23andMe. Lalu, sambungnya, perusahaan mengesampingkan kerabat-kerabat dekat, sebab itu dapat mendistorsi daya, dan menyingkirkan orang asing yang data genetiknya tidak cocok dengan apa yang mereka tulis dalam survey.

Tapi para spesialis di dalam maupun di luar perusahaan-perusahaan ini mengakui bahwa batasan geopolitik yang kita pakai hari ini sangat baru, sehingga konsumen mungkin menggunakan kategori tidak presisi saat berpikir tentang leluhur genetik mereka dalam sejarah luas migrasi manusia. Dan hasil [tes] leluhur pengguna bisa berubah tergantung pada set data yang menjadi pembanding material genetik mereka—sebuah fakta yang dimanfaatkan oleh beberapa pengguna Stormfront, menurut pengakuan mereka sendiri, dengan mengunggah data mereka ke berbagai situs untuk memperoleh hasil lebih “putih”.

J. Scott Roberts, profesor tamu di Universitas Michigan, yang mempelajari pemakaian tes genetik untuk konsumen dan tidak terlibat dengan studi di atas, menyebut perusahaan-perusahaan cenderung andal dalam mengidentifikasi varian-varian genetik. Tapi menafsirkannya dalam hal resiko kesehatan atau silsilah leluhur adalah cerita lain. “Sains kerap samar di bidang-bidang tersebut dan memberi informasi ambigu,” katanya. “Mereka mencoba memberi persentase spesifik dari kawasan ini, atau x persen resiko penyakit, dan pemahaman saya adalah bahwa itu taksiran presisi secara artifisial.”

Bagi para pengarang studi, yang paling menarik adalah menonton komunitas daring ini menegosiasikan batasannya sendiri, memikirkan ulang siapa yang tergolong “putih”. Itu melibatkan bejibun kontradiksi. Mereka melihat orang-orang dikecualikan gara-gara hasil tes genetiknya, seringkali dengan cara sangat kotor (dan tak pantas untuk dikutip), tapi itu cenderung terjadi pada anggota baru komunitas daring anonim tersebut, kata Panofsky, dan tidak sering pada anggota lama dan terpercaya. Yang lain diberitahu bahwa mereka bisa tetap menjadi bagian kelompok-kelompok nasionalis kulit putih, terlepas dari silsilah leluhur yang mereka ungkap, selama mereka tidak “kawin”, atau sekadar menghasilkan anak, dengan kelompok etnis tertentu. Yang lain lagi memakai hasil tes ini untuk mencetuskan gagasan kebhinnekaan sinting, gagasan “yang memungkinkan mereka untuk berkata, ‘Tidak, kita sebetulnya bhinneka dan kita tidak butuh orang-orang non-kulit putih untuk memiliki masyarakat bhinneka,’” kata Panofsky.

Itu jauh sekali dari pesan rekonsiliasi yang ingin digalakkan perusahaan-perusahaan tes genetik leluhur.

Sweetheart, kau punya sedikit hitam dalam dirimu,” kata presenter talk show Trisha Goddard kepada Craig Cobb hari itu tahun 2013. Tapi itu tidak mencegahnya melakukan tes ulang dengan perusahaan lain, berusaha mengubah atau mengurai data sampai cocok dengan pandangan rasisnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.