Nasionalis Kulit Putih Berduyun-duyun Lakukan Tes Genetik Leluhur. Sebagian Tidak Suka Dengan Hasilnya.

Itu momen kemenangan aneh atas rasisme: Craig Cobb, supremasis kulit putih penyandang senapan, berdandan setelan gelap dan dasi merah untuk acara TV siang, mendengar bahwa tes DNA mengungkap leluhurnya hanya “86% Eropa, dan...14% Afrika Sub-Sahara”.

Advertisements

Nasionalisme vs. Globalisme – Sebuah Film

Masa lalu bukanlah prolog. Mungkin dunia akan menjadi lebih terbelah, Uni Eropa akan pecah, Amerika Serikat akan menjadi lebih isolasionis, konflik lebih besar akan terjadi antara AS, Korea Utara, dan negara-negara lain. Pasukan nasionalisme dan populisme, yang mendorong orang-orang untuk berbalik ke dalam, menutup diri, dan menolak hal-hal yang saya hargai (globalisme, keterbukaan, kebebasan bergerak) mungkin jadi lebih menonjol.

Nasionalisme — Penyebab Peperangan

Alasan ekonomi adalah, tentu saja, akar peperangan. Tapi hari ini, di mana semua khotbah nasionalistis ini tanpa sadar menguntungkan pihak berwenang, mengaburkan fakta ini jadi lebih mudah daripada sebelumnya. Nasionalisme adalah jubah yang di baliknya alasan-alasan ekonomi bekerja.

Apakah Globalisasi Mengurangi Arti Penting Nasionalisme?

Globalisasi, nasionalisme, dan hubungan antara keduanya menjadi subjek perdebatan di kalangan cendekiawan dalam disiplin hubungan internasional. Kedua konsep mempunyai kedudukan penting di dunia kontemporer. Nilai penting mereka terletak pada pembentukan masyarakat modern dan negara-bangsa, serta peran mereka di sebuah dunia yang semakin saling tergantung.

Akankah Agama Menghilang?

Kian banyak orang, jutaan di seluruh dunia, mengaku percaya bahwa kehidupan berakhir pada kematian—bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada akhirat, dan tidak ada rencana ilahi. Dan pandangan ini boleh jadi sedang mendapat momentum—meski tak ada sorak-sorai. Di beberapa negara, ateisme terang-terangan tidak pernah populer.