Globalisme Adalah Kemenangan Cita-cita Barat

Oleh: Paul D. Miller
10 Februari 2017
Sumber: Foreign Policy

Presiden Donald Trump tidak suka “globalisme”. April lalu dalam pidato kebijakan luar negeri pertama di kampanyenya, dia berkata, “Kita tidak akan lagi menyerahkan negara ini atau rakyatnya kepada lagu palsu globalisme.” Dia mencuit pada bulan Juni bahwa orang Amerika menghadapi sebuah “pilihan antara Amerikanisme dan globalisme korup [Hillary Clinton].” Breitbart, penyambung lidah Trumpisme, bulan lalu memuat sebuah artikel yang menggembar-gemborkan “Visi nasionalis Trump” melawan “Injil Globalisme”. Dan Robert Merry, editor pengkontribusi di National Interest, sependapat, menggolongkan pemilu 2016 sebagai kontes antara nasionalisme dan globalisme.

Kredit foto: Drew Angerer/Getty Images

Saya bukan orang pertama yang menanyakan secara skeptis: Apa sih globalisme? Trump dan pendukungnya tampak menyamakan itu, tergantung siapa yang paling perlu mereka kritik saat ini, dengan perdagangan bebas, institusi internasional, penyelenggaraan perbatasan yang longgar, imigran dan imigrasi, kosmopolitanisme atau multikulturalisme, petugas keamanan yang kooperatif, ketiadaan respek terhadap tradisi dan budaya nasional, atau pertemuan tahunan di Davos.

“Globalisme”, kalau begitu, adalah kombinasi kepura-puraan, teori konspirasi, dan eksepsionalisme Amerika. Kalangan kanan-jauh telah lama memegang teori konspirasi menggebu-gebu bahwa kelompok kiri mendalangi kampanye disengaja untuk menyabotase mayoritas kulit putih Amerika melalui imigrasi tak terbatas, dan dengan begitu memastikan koalisi pelangi sayap kiri permanen. Umpatan Trump terhadap globalisme dirancang, sebagiannya, untuk bergaung dengan paranoia ini.

Tapi kebanyakan dari apa yang dipandang sebagai “globalisme” selebihnya adalah penyebaran cita-cita kebebasan politik dan ekonomi Barat secara luar biasa. Sebagai contoh, kata lain untuk “perdagangan bebas” adalah “kapitalisme”, salah satu sumbangsih besar Barat kepada dunia. Jika ini adalah globalisme, mari kita memanfaatkannya sebaik mungkin. Adalah luar biasa aneh bahwa presiden Amerika Serikat akan memunggungi ide-ide ekonomi Barat atas nama melindungi dan mempromosikan identitas nasional Amerika.

Aspek lain dari globalisme—atau, memakai istilah yang lebih akurat, liberalisme—yang baik adalah konvergensi identitas nasional berkat penyebaran demokrasi dan kebebasan politik. Seperti pendapat Henry Nau dalam buku hebatnya, At Home Abroad, negara-negara demokratis cenderung, seiring waktu, memandang dunia dalam perspektif serupa. Mereka cenderung merasakan ancaman dan peluang serupa, yang membantu mendasari kedamaian demokratis.

Yang terpenting—dan berlawanan dengan klaim Trump—negara dapat mengadaptasi demokrasi tanpa melepas kekhasan nasional atau mengkhianati warisan sejarah dan budaya mereka. Kejeniusan liberalisme adalah daya adaptasinya dengan berbagai konteks budaya. Itulah persis kenapa ia menjadi ideologi politik paling sukses dalam sejarah umat manusia, dan kenapa ia berjaya di mana-mana dari India sampai Jepang.

Sekali lagi, adalah aneh bahwa Amerika Serikat akan menyerang penyebarluasan liberalisme politik di bawah bendera nasionalisme Amerika padahal Amerika Serikat sendirilah yang paling bertanggungjawab atas penyebaran global dan kesuksesan cita-cita liberal.

Ketika Thomas Jefferson menulis fakta-fakta yang “terbukti sendiri” tentang kesetaraan manusia dan pertanggungjawaban pemerintah hingga “persetujuan dari yang diperintah”, ide-ide ini dianggap menggelikan. Waktu itu tak ada bangsa lain di dunia yang percaya atau menerima liberalisme Pencerahan sebagai fondasi pemerintahan. Itulah mengapa kita sudah tepat menyebut Amerika Serikat bangsa eksepsional: ia uniknya didirikan di atas ide kebebasan tertib di dalam sebuah republik federal campuran.

Era pasca Perang Dingin telah menyaksikan pasang naik liberalisme dalam seluruh catatan sejarah manusia. Pada akhirnya, makro-narasi sejarah selama seperempat milenium terakhir adalah berpindahnya sebagian besar dunia ke cara berpikir Amerika (dan Inggris) tentang politik dan ekonomi. Betul-betul mengherankan bahwa sebagian besar dunia saat ini sepakat dengan Amerika Serikat tentang fakta-fakta “terbukti sendiri” yang ia proklamirkan sendirian pada saat kelahirannya. Penyebaran liberalisme bukanlah “globalisme”. Ini adalah kemenangan eksepsionalisme Amerika.

Amerika Serikat menolak atau melepaskan diri dari tatanan internasional liberal sama artinya dengan meninggalkan pencapaian terbesarnya sendiri—sebuah pengkhianatan tragi-komik terhadap seabad darah, keringat, kerja keras, dan air mata Amerika. Berbuat demikian atas nama menempatkan “Amerika Dulu” atau mendapatkan kembali kebangsaan Amerika, itu betul-betul pertunjukan lawak.

Tentu saja pemerintah AS harus menempatkan Amerika dulu—itulah persis kenapa Amerika Serikat harus menopang tatanan liberal. Woodrow Wilson, Harry Truman, Dwight D. Eisenhower, John F. Kennedy, dan Ronald Reagen tidak memenangkan Perang-perang Dunia dan menciptakan bangunan kebebasan tertib global di kalangan sekutu Amerika karena berpikir itu menempatkan Amerika nanti. Mereka melakukannya karena paham bahwa tatanan liberal adalah perimeter luar keamanan Amerika.

Tidak pula komitmen menjawarakan liberalisme mengharuskan penanggalan tradisi dan sejarah Amerika sendiri, sebagian besar karena menjawarakan liberalisme merupakan sejarah Amerika. Justru, Amerika akan menjadi kurang sesuai dengan sejarah mereka, kurang benar-benar Amerika, jika kita melepas peran kita sebagai jawara dan suar kebebasan tertib. Itu mencakup peran negara dalam menyambut “kerumunan orang-orang letih, miskin, dan meringkuk yang rindu untuk bernapas lega” yang datang ke pantai Amerika mencari kehidupan lebih baik. Penyebaran dan kesuksesan liberalisme di seluruh dunia membuktikan kebohongan dalam teori-teori konspirasi soal imigrasi. Jika liberalisme bisa sukses di dunia non-Barat, itu aman di tangan imigran yang menuju Amerika Serikat. Tapi tak ada gunanya jika presiden Amerika Serikat membuat mereka merasa tidak disambut di tanah air angkat mereka.

Tentang penulis:

Paul D. Miller adalah associate director Clements Center for National Security di University of Texas di Austin. Sebelumnya dia menjabat sebagai direktur urusan Afghanistan dan Pakistan di Dewan Keamanan Nasional untuk Presiden George W. Bush dan Barrack Obama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.