Nasionalisme vs. Globalisme – Sebuah Film

Oleh: Jason
20 April 2017
Sumber: Reaching Our Balance

Saya harap Anda mau memaafkan saya karena tidak menulis tentang keuangan pribadi hari ini, meskipun postingan ini memang berdampak pada pasar keuangan global dan portofolio individual kita. Saat memulai blog ini sekitar 2,5 tahun lalu saya berkata bahwa saya akan menjejaki perkembangan keuangan pribadi saya, menawarkan artikel seputar kiat-kiat mengenai keuangan pribadi, dan saya akan menambahkan postingan politik sesekali.

Biasanya, 99% postingan saya berkenaan dengan keuangan pribadi. Untuk suatu alasan, saya belum mau berkomentar tentang politik di blog ini, biarpun itu bagian dari apa yang saya kerjakan sebagai seorang akademisi. Saya suka politik. Saya suka mendiskusikan strategi, penggunaan bahasa, seperti apa masa depan, dll. Mungkin alasan saya memposting lebih banyak adalah karena mayoritas orang benci membicarakan politik, walaupun itu bagian dari kehidupan kita sepanjang waktu. Kita tidak dapat melarikan diri dari politik. Seperti yang dulu Aristoteles katakan (dan sekarang saya sitir), politik adalah seni tertinggi dan retorika adalah cabang etis seni tersebut. Berhubung saya belajar retorika dan politik, saya merasa seperti mempelajari subyek terpenting di luar sana.

Jadi kenapa membuat postingan politik hari ini? Well, saya sudah lama ingin menulis ini, tapi sewaktu saya mendengarkan NPR pagi ini dan memikirkan pemilu mendatang di Prancis, peristiwa-peristiwa di AS dan Eropa selama 18 bulan terakhir, saya jadi semakin banyak berpikir tentang arah planet ini. Arah politik, khususnya berkenaan dengan isu nasionalisme vs. globalisme.

Jika Anda baca berita selama 18 bulan terakhir Anda akan mengira, dalam beberapa hal, bahwa dunia sedang menjadi neraka. Momok-momok masa lalu—fasisme, xenofobia, ideologi nasionalis, retorika eksklusif—terlihat sedang menanjak.

Sebagai contoh, pilihan Inggris untuk keluar Uni Eropa memulai fenomena ini. Terus Anda menyaksikan keterpilihan Donald Trump dengan pesannya “Make America Great Again” yang bermakna proteksionisme, pembatasan imigrasi, dll. Krisis pengungsi Suriah tentunya memperburuk isu ini. Negara-negara seperti Hongaria, Polandia, Republik Ceko, Serbia, dan lainnya mencoba membatasi arus migran ke perbatasan mereka. Ada serangan teroris tingkat tinggi di Eropa selama 18 bulan terakhir yang dikaitkan oleh sebagian orang dengan naiknya populasi migran ini. Gara-gara ini, para pemimpin politik seperti Geert Wilders di Belanda dan Marine Le Pen di Prancis, dua-duanya pemimpin organisasi amat nasionalis, sukses secara politik dalam setahun terakhir. Gerakan nasionalis juga tumpah ke negara-negara Eropa lain. Dan otoritarianisme nampak tumbuh di Turki, Venezuela, dan negara lainnya.

Peralihan menuju globalisme lebih luas, keterbukaan perbatasan, perdagangan, dan semacamnya, telah berhenti sama sekali di jalurnya.

Beberapa hal ini dapat dimaklumi. Sejak akhir Perang Dingin, terutama di Amerika Serikat, upah menjadi stagnan bagi banyak pekerja kelas menengah. Peruncingan kekayaan antar kelas berada pada rekor tertinggi sepanjang masa. Namun, ini bukan fenomena unik Amerika. Ekonomi-ekonomi paling maju tampak bergulat dengan peruncingan kekayaan ini, yang menjelaskan bangkitnya gerakan nasional populis di Prancis di mana ekonomi telah mandek selama 20 tahun terakhir.

Orang-orang secara alamiah mencari kambing hitam. Kambing hitamnya seringkali adalah imigran yang merebut pekerjaan “orang Amerika” atau “orang Prancis” atau pekerjaan apa saja. Naiknya terorisme selama dua dekade terakhir tidak membantu situasi.

Jadi, kesimpulannya, pasukan populisme, nasionalisme, dll sedang berbaris maju dan orang-orang yang percaya pada integrasi lebih luas dan keterbukaan lebih luas sedang menarik mundur.

Mungkin demikian.

Namun, saya sudah melihat film ini sebelumnya.

Saya sudah hidup cukup lama dan mempelajari politik global cukup banyak untuk mengatakan bahwa kemiripan dengan masa lalu seringkali mencolok.

Sebagai contoh, di awal 1990-an pasca berakhirnya Perang Dingin, pasukan nasionalis terlepas kendali ke dunia. Francis Fukuyama menyebut masa ini “akhir sejarah” karena dia berargumen bahwa pasar bebas dan demokrasi telah menang dan semua ideologi kelak akan jatuh ke dalam tong sampah sejarah.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Pasukan populisme dan nasionalisme terlepas kendali dan mengakibatkan segudang konflik dalam negeri. Perang sipil Yugoslavia, Genosida Rwanda, hancurnya pemerintahan di Somalia dan Haiti adalah sebagian korban dari lepasnya pasukan ini.

Selain itu, kita menyaksikan kelesuan ekonomi negara-negara seperti Rusia di mana tahun 1990-an merupakan masa yang sangat sulit secara ekonomi. Itu tidak berlaku di Rusia saja tapi di berbagai belahan Eropa Timur dan Asia Tengah. Itu mengakibatkan migrasi lain dari negara-negara tersebut ke berbagai belahan Eropa, Afrika, dan Asia.

Saya ingat secara khusus bahwa ketika politisi Rusia, Vladimir Zhirinovsky, dan partainya menang 23% suara parlemen di Rusia pada 1993, orang-orang panik. Zhirinovsky dijuluki sebagai Hitler Rusia berikutnya dan dalam pemilu presiden 1996, yang diduga akan dimenangkannya, dia berakhir di urutan keempat. Joerg Haider adalah pemimpin nasionalis di Austria yang mencuat pada 1990-an. Jean Marie Le Pen di Prancis meraih semakin banyak popularitas sejak 1990-an. Bahkan Jerman, yang dianggap sebagai negara Eropa paling stabil hari ini, mengalami banyak gangguan selagi Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu kembali ke dalam Republik Jerman raya. Di Amerika Serikat kita menyaksikan bangkitnya milisi sayap kanan, serangan teroris terhadap Murrah Federal Building di Oklahoma City dan Olimpiade Atlanta yang ditimbulkan oleh orang-orang anti-pemerintah.

Akhir Perang Dingin, yang membawa begitu banyak harapan, juga membawa sejumlah besar kekacauan karena orang-orang dikeluarkan dari pekerjaan seiring ambruknya pemerintahan dan ekonomi. Pasukan globalisasi, yang menghadirkan banyak peluang, menimbulkan sejumlah besar masalah. Gara-gara kehancuran tatanan lama (contohnya Perang Dingin), lepasnya globalisasi dan kekacauan yang ditimbulkan, pasukan nasionalisme dan populisme.

Dari sekitar 1991 s/d 1995/1996 dunia seolah sedang hancur berantakan. Seolah pasukan nasionalisme dan populisme itu akan membakar habis tatanan dunia.

Seperti gerakan-gerakan populis masa lalu, pasukan nasionalis ini akhirnya surut. Mereka akhirnya menarik mundur untuk menunggu sampai lain waktu, sampai mereka dapat hidup lagi.

Keruntuhan ekonomi global 2007-2009 telah memperkenankan pasukan itu tampil lagi ke depan. Musim Semi Arab dan perang sipil di Suriah mengakibatkan krisis migrasi sangat besar (tapi banyak di antara migran tersebut berasal dari Afrika), juga berkontribusi pada hal ini. Dan karena inilah mereka mendapat hasil signifikan. Para nasionalis meraih kemenangan di Inggris, Amerika Serikat, Turki, dan berbagai negara Eropa. Mereka mungkin akan mendapat kemenangan lain di pemilu Prancis mendatang dalam dua minggu ke depan.

Namun, pola-pola kekacauan ini dan semacamnya pernah disaksikan oleh dunia sebelumnya. Mereka selalu (dan saya tahu itu hiperbolik) muncul untuk jangka waktu yang singkat setiap generasi. Dan kemudian pasukan itu surut.

Dan nasionalisme itu sendiri belum tentu hal yang negatif. Namun, para nasionalis menyalurkan frustasi mereka dengan menyalahkan imigran, minoritas, dan komunitas GLBTQ atas nasib mereka dalam kehidupan. Mereka bertanggungjawab atas kemandekan ekonomi, krisis migran, kekacauan yang disebabkan oleh globalisasi dan perdagangan. Naiknya retorika xenofobia dan rasismelah yang seharusnya orang-orang khawatirkan. Dan ada banyak hal untuk dikhawatirkan.

Tapi kita mungkin telah melewati pasang naik pasukan-pasukan ini. Suara-suara nasionalis yang meraih popularitas mungkin sedang surut. Baru-baru ini, Austria memilih kandidat pro-Eropa sebagai presidennya ketimbang kandidat yang jelas-jelas anti-Eropa. Di Belanda, Geert Wilders kalah dalam upayanya menjadi perdana menteri. Di Prancis, Marine Le Pen mungkin dapat memenangkan putaran pertama pemilu presiden Prancis, tapi secara luas diyakini akan kalah di putaran ke-2. Skotlandia, yang penduduknya sebagian besar memilih untuk tetap di Uni Eropa, ingin mendeklarasikan diri mandiri dan tetap di UE.

Di Amerika Serikat, hanya karena Donald Trump memenangkan kepresidenan bukan berarti diskursus nasionalis ini akan sukses selama-lamanya. Trump KALAH popular vote, tapi menang electoral college. Dia punya persekutuan tak nyaman dengan orang-orang Republik yang kebanyakan pedagang bebas dan internasionalis. Pemilu-pemilu khusus (special election) belakangan ini mengisyaratkan bahwa gaya retoris Trump—populis, nasionalis, anti-globalisme—mungkin tidak berhasil. Kekuatan diskursus ini boleh jadi sedang berkurang.

Terakhir, maksud postingan ini adalah untuk mengatakan bahwa orang-orang yang berargumen kita sedang tenggelam ke dalam zaman kegelapan yang rasanya sudah kita tinggalkan (coba renungkan meluasnya Nazisme dan fasisme di berbagai belahan dunia), saya ingin katakan kepada Anda bahwa saya sudah menonton film ini sebelumnya. Dunia sudah menonton film ini sebelumnya.

Masa lalu bukanlah prolog. Mungkin dunia akan menjadi lebih terbelah, Uni Eropa akan pecah, Amerika Serikat akan menjadi lebih isolasionis, konflik lebih besar akan terjadi antara AS, Korea Utara, dan negara-negara lain. Pasukan nasionalisme dan populisme, yang mendorong orang-orang untuk berbalik ke dalam, menutup diri, dan menolak hal-hal yang saya hargai (globalisme, keterbukaan, kebebasan bergerak) mungkin jadi lebih menonjol.

Tapi saya sudah menonton film ini sebelumnya. Kita sudah melewati ini sebelumnya dan dunia keluar dari sisi lain dalam kondisi lebih terintegrasi. Tatanan global yang dibangun pasca Perang Dunia II bertahan dan berkembang pesat. Kemakmuran global kembali. Dunia menjadi lebih terintegrasi. Konflik global menurun dan terus turun.

*Fakta menyenangkan untuk Anda: Hari ini konflik global dan pembunuhan karena perang lebih sedikit dibanding masa manapun dalam sejarah manusia. Dunia TIDAK sedang jatuh berantakan.

Saya percaya ketika kita menengok ke masa ini 10 tahun nanti, kita akan melihat satu blip lain dalam sejarah berkenaan dengan nasionalisme vs. globalisme.

Dan itu bukan berarti kita tidak punya permasalahan global yang serius. Itu bukan berarti ketimpangan kekayaan akan teratasi. Itu bukan berarti kemiskinan akan menghilang. Itu bukan berarti orang-orang akan memiliki kelimpahan makanan atau orang-orang akan mati dalam konflik. Momok-momok masa lalu akan selalu eksis. Mereka tidak akan pernah pergi. Saya tidak senaif itu untuk bernyanyi bahwa segalanya akan menjadi anggur dan mawar, tapi dalam busur panjang sejarah, mereka menjalankan pertempuran yang pasti gagal.

Tapi saya siap berdebat dengan mereka yang melihat dunia sedang menjadi neraka. Saya siap menunjukkan bahwa arus pasang nasionalis sedang surut (menurut hemat saya). Saya siap mengatakan bahwa keadaan akan membaik.

Saya sudah menonton film ini sebelumnya. Pasukan xenofobia, rasisme, anti-globalisme, dll, tidak akan menang. Film ini akan berakhir bahagia dan akan ada banyak sekuel dan banyak akhir bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s