Para Elit Telah Mengantisipasi Nasionalisme vs. Globalisme

Oleh: Ryan Landry
13 Desember 2015
Sumber: Social Matter

Api memanas. Bukan saja mujahidin sedang mengekspresikan kemarahannya pada universalisme Barat, tapi juga orang Yaman telah memulai pertempuran melawan apa yang mereka lihat sebagai pemaksaan tujuan globalis dari atas ke bawah (top-down). Yaman bukan titik kilas satu-satunya, karena pemimpin Hongaria, India, Rusia, dan China mengekspresikan perlawanan atau penantangan terhadap tatanan globalis. Eropa Barat dan bahkan AS mengalami gerak-gerak kebangkitan nasionalis dan perangkulan identitas historis. Bahkan para seniman sederhana ikut bergabung dengan kereta musik. Pertempuran nasionalis vs. globalis sedang ramai-ramainya. Penolakan terhadap kerajaan progresif camplang abad 21 sedang tumbuh di seluruh dunia. Kabar buruknya, elit global telah mengantisipasi dekade-dekade ini.

Pertarungan globalis/nasionalis didiskusikan pasca jatuhnya komunisme gaya Soviet dengan dua sikap berbeda terhadap subjek ini: The Revolt of the Elites-nya Christopher Lasch dan Jihad vs. McWorld-nya Benjamin Barber. Kedua buku sebetulnya hanya pengembangan dari artikel majalah terdahulu karya masing-masing pengarang yang sama. Kedua buku membahas pengkhianatan terhadap demokrasi, atau datangnya kematian demokrasi, akibat konflik masa depan. Keduanya mendukung demokrasi, sebab ini adalah agama yang berkuasa. Keduanya menggambarkan lingkungan kultural yang terjangkiti ide kemenangan liberalisme Barat, yang diekspresikan paling kocak dalam buku Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man. Dengan selang dua puluh tahun antara kita dan mereka, kita bisa lihat ada isu-isu yang tidak diantisipasi oleh keduanya.

Buku Lasch mengekspresikan kemarahan atas pengkhianatan elit global terhadap warga negara mereka sendiri. “Davos Man” setia kepada inisiatif global, daripada kepentingan lokal. Para pembangkang mengejeknya atas afiliasi dengan budaya transnasional elit, ketimbang budaya negeri sendiri. Davos Man akan sering, jika bukan selalu, mendorong sentralisasi dan juga kendali lebih besar, menarik otoritas global dan nilai-nilai universal.

Lasch secara gamblang melukiskan penyimpangan elit politik, korporasi, dan profesional Barat dari masyarakat yang mulai mereka ejek. Lasch melihat pengambilalihan global dan berharap sistem dapat memperbaiki diri. Buku Barber mengevaluasi situasinya, lebih dari sekedar elit tertentu. McWorld-nya Barber adalah pendekatan globalis konsumeris korporat yang fokus pada informasi dan ekonomi. Jihad bukanlah konsep jihad Muslim semata, melainkan pengganti kesukuan berbasis identitas dan perjuangan orang-orang untuk memiliki tempat yang aman dan hak penentuan nasib sendiri. Barber melihat demokrasi masih eksis, tapi tidak melihat masa depan untuknya jika globalis ataupun mujahidin menang.

Elit kita telah melihat ini datang. Mereka tahu akan ada dorongan balik terhadap tujuan globalis mereka. Esai asli Barber memandang ancaman jihad sebagai “desahan terakhir” sebelum “kuapan McWorld” yang membosankan mengeras. Lasch dan Barber sama-sama menyadari daya pikat hiburan massal dan makanan cepat saji produksi murah bagi orang non-Barat yang tadinya kelaparan dan jenuh. Yang tidak mereka lihat adalah bahwa keterpaparan berkepanjangan terhadap hal-hal ini akan menciptakan populasi tumpul dan hampa. Kehampaan akan merongrong populasi utama Dunia Kesatu, dan terbukti hambar dan semu bagi dunia berkembang. Mereka tidak melihat bahwa daya tarik buah-buahan korporasi multinasional akan dianggap ancaman bagi tatanan lama, memicu reaksi autoimun.

Dua orang ini tidak melihat betapa Barat sudah menjadi lemah dalam rebusan McWorld di bawah kepemimpinan yang berkhianat. Dicekoki narkoba dan diperlunak agar massa tidak menimbulkan ancaman bagi elit Barat, masyarakat Barat telah kehilangan kekuatan untuk memukul mundur ekspresi jihad asingnya Barber (kadang jihad harfiah), mengancam keseluruhan sistem. Lasch ataupun Barber tidak menyangka para elit Barat akan secara aktif menghancurkan bangsa mereka dengan mengimpor orang asing dunia ketiga di bawah asumsi keliru bahwa mereka juga dapat didamaikan dengan makanan cepat saji, sistem kesejahteraan, dan hiburan Hollywood.

Lasch meninjau kehampaan dunia elit sebagaimana Barber. Barber tidak pernah meninjau kekuatan minoritas bersemangat ashabiyyah dan memiliki poin Schelling yang kuat versus persekutuan rapuh yang dipertalikan oleh dolar. Lasch tidak hilang kontak dengan kekuatan agama dan tradisi, sedangkan Barber terpikat oleh kekuasaan dan kemenangan dunia sekuler Barat. Melambangkan elit, Barber hilang kontak dengan kekuatan yang dimiliki agama dalam mengikat orang-orang. Ini, sebagaimana perjuangan historis bersama (jihad terdahulu), dapat menciptakan koneksi untuk menghasilkan pesan amat kuat guna mempengaruhi sebuah komunitas di hadapan desakan pemasaran McWorld yang tumpul dan camplang.

Hal krusial lain yang mereka luputkan adalah persoalan terlalu luasnya jangkauan elit Barat yang membentang dalam aspek ekonomi maupun sosial. Piring pupu progresif dipaksakan pada bangsa manapun yang memasuki McWorld Barat tanpa memandang tradisi atau agamanya. Barat memusatkan begitu banyak kekayaan di tangan begitu sedikit orang sampai-sampai jenjang naik di dalam populasi mereka kini terbatas pada kalangan yang terhubung secara politik. Barat berbuat demikian dengan menurunkan nilai mata uang cadangan dan mengancam sistem dolar dengan tsunami utang. Kita cuma bisa berjalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan McWorld dan bertanya-tanya apa yang menghubungkan orang-orang. Betulkah identitas kuat menciptakan para pembela suatu bangsa dan orang-orang yang berlomba-lomba demi kedaulatan, ataukah dolar memungkinkan konsumen membeli barang-barang McWorld? (Piring pupu/pupu platter adalah sejenis nampan atau baki untuk masakan China Amerika dan Hawaii yang terdiri dari bermacam daging kecil dan makanan pembuka boga bahari—penj.)

Deskripsi Barber atas pertempuran ini tidak pernah mempertimbangkan aspek negatif demokrasi. Asumsi dasar Barber adalah bahwa politik demokrasi partisipatif menciptakan kemenangan pemerintahan perwakilan Barat yang didanai kapitalis. Dia tidak memandang aksi pribadi individu dan kelompok, yang menciptakan institusi tanpa campurtangan atau patronase pemerintah, sebagai sebab atau dasar kebangkitan Barat. Seperti pemikir cakap dan progresif manapun, dia tak pernah bisa mempertimbangkan bahwa hak dan kebebasan yang Barat nikmati adalah produk masyarakat, budaya, dan proses evolusi yang menciptakan Barat pasca kejatuhan Roma. Barber melompati proses dekolonialisasi di Afrika yang menyaksikan [sistem] satu orang, satu suara, satu waktu (one man, one vote, one time) berlaku di negara demi negara, baik bertepatan dengan atau mendahului pembunuhan antar suku atau pembersihan etnis. Seperti sisi lain patung Janus, Barber tak pernah mempertimbangkan bahwa entitas politik homogen memiliki begitu banyak kesamaan sampai-sampai bisa timbul politik partisipatif untuk poin-poin kebijakan dan tatakelola yang lebih tajam karena keamanan suku dan keyakinan budaya akan solid dan ditanggung bersama.

Nasionalisme hanyalah langkah pertama, dan langkah yang disebut oleh bahkan akademisi Marxis Michael Clouscard sebagai sarana untuk melawan balik kapitalisme dan globalisasi. Para elit telah mengantisipasi ini dan mengisi negara-negara kaya di dunia dengan cukup orang asing dan minoritas demi menciptakan kelompok-kelompok yang mudah dicetak tapi terlalu lemah untuk melawan keluhan, demi menangkal nasionalis seperti Marine LePen. Mereka tidak mengantisipasi teknologi untuk memperlemah alat-alat yang mereka pakai untuk menerapkan utopia progresif mereka atau untuk menciptakan kecemburuan dan gesekan baru di antara penduduk, yang memperkokoh identitas sub-kelompok.

Sekali timbul kesadaran bahwa negara-negara telah mengkhianati rakyatnya, dan bahwa teknologi menempatkan di tangan kelompok-kelompok kecil kekuasaan dan kemampuan yang tadinya hanya ada dalam domain negara berdaulat, fragmentasi akan menyebar. Demokrasi yang katanya Lasch dan Barber cintai mungkin akan binasa sama sekali, atau mungkin menemukan keabadian di negara-negara kota kecil dan satuan-satuan politik tersaring.

One thought on “Para Elit Telah Mengantisipasi Nasionalisme vs. Globalisme

  1. Dibanding dengan globalisme, nasionalisme pasti tetaplah menang karena nasionalisme sudah ada pada diri sendiri sejak lahir dan tidak akan pernah hilang. Sedang globalisme datang kemudian dan suatu saat bisa hilang. Bahkan banyak yang hidup dengan gaya global tapi tetap bersifat nasionalis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.