Inggris Alami Krisis Identitas Karena Abaikan Akar Pagannya?

“Renaisans pagan sudah lewat dari jadwal. Eropa perlu menyembuhkan jiwanya. Di bawah Kekristenan, Eropa belajar untuk menolak leluhurnya, masa lalunya, yang mana tidak bagus untuk masa depannya pula. Eropa menjadi sakit karena ia koyak dari warisannya sendiri, ia terpaksa mengingkari akarnya. Jika Eropa hendak disembuhkan secara spiritual, ia harus mengembalikan masa lalu spiritualnya—minimal ia tidak boleh memegangnya dengan rasa malu seperti itu.” (Ram Swarup)

Advertisements

Nasionalisme vs. Globalisme – Sebuah Film

Masa lalu bukanlah prolog. Mungkin dunia akan menjadi lebih terbelah, Uni Eropa akan pecah, Amerika Serikat akan menjadi lebih isolasionis, konflik lebih besar akan terjadi antara AS, Korea Utara, dan negara-negara lain. Pasukan nasionalisme dan populisme, yang mendorong orang-orang untuk berbalik ke dalam, menutup diri, dan menolak hal-hal yang saya hargai (globalisme, keterbukaan, kebebasan bergerak) mungkin jadi lebih menonjol.

Apakah Globalisasi Mengurangi Arti Penting Nasionalisme?

Globalisasi, nasionalisme, dan hubungan antara keduanya menjadi subjek perdebatan di kalangan cendekiawan dalam disiplin hubungan internasional. Kedua konsep mempunyai kedudukan penting di dunia kontemporer. Nilai penting mereka terletak pada pembentukan masyarakat modern dan negara-bangsa, serta peran mereka di sebuah dunia yang semakin saling tergantung.

Akankah Nasionalisme Lenyap Dalam 100 Tahun ke Depan?

Nasionalisme, yang di masa Uni Soviet didefinisikan tak lebih dari “relik kapitalisme”, masih menjadi ciri permanen masyarakat manusia. Bangsa-bangsa baru bermunculan dalam negara-negara baru, yang bukan saja mengulangi cara bangsa-bangsa Eropa “lama”, tapi juga menambahkan corak Muslim pada gagasan nasionalis masa lampau.