Nasionalisme — Penyebab Peperangan

Oleh: David P. Berenberg
21 Oktober 1917
Sumber: Marxist History

Terbit dalam The New York Call, vol. 10, no. 294 (21 Oktober 1917), seksi majalah Sunday, hal. 6.

Kaum sosialis selalu mengklaim bahwa dasar seluruh peperangan adalah alasan ekonomi. Klaim ini disokong oleh studi teliti terhadap sebab dan akibat semua perang besar yang mengganggu perdamaian dunia sejak masa ekspedisi Aleksander, dan bahkan lebih jauh ke belakang. Ambruknya peradaban di Eropa saat ini lebih disebabkan oleh persaingan ekonomi daripada sebelumnya. Semua pelajar sejarah hafal bahwa “lingkup pengaruh” dan “posisi di langit” hanyalah ungkapan elegan yang sebetulnya bermakna kepemilikan eksklusif atas pasar luar negeri dan hak istimewa perdagangan. Tapi hal-hal ini hanya diketahui oleh penyelidik fakta yang teliti dan oleh sejarawan yang tak berpihak. Para raja dan kapitalis mungkin berkelahi demi hal-hal ini—rakyat, tidak pernah!

(Lingkup pengaruh atau sphere of influence adalah sebuah kawasan ruang atau konsep pembagian yang atasnya sebuah negara atau organisasi memiliki eksklusivitas budaya, ekonomi, militer, atau politik, dan mengakomodasi kepentingan kekuatan di luar perbatasan negara yang mengontrolnya—penj.)

Tapi rakyatlah yang harus melancarkan perang. Jadi raja dan kapitalis harus menemukan suatu sarana lain untuk mendapat pelakon dalam perkelahian mereka. Banyak skema telah digunakan oleh mereka—prospek barang jarahan dan rampasan, peluang memperkosa, dan pemupukan tradisi militer. Tapi di Abad 20 ajaran perikemanusiaan, pengaruh peradaban yang melunakkan, telah berkembang begitu jauh sehingga diperlukan sarana lain untuk menggerakkan satu bangsa melawan bangsa lain. Sarana itu telah ditemukan. Yakni nasionalisme.

Abad ke-19 menghadirkan fenomena bangsa kecil. Di Amerika dan di Eropa, lusinan bangsa kecil yang individualitas kebangsaannya sudah lama terisap dalam individualitas bangsa lain menegaskan kembali diri mereka. Serbia, Yunani, Rumania, dan Bulgaria bangkit mengancam perdamaian Eropa dengan eksistensi mereka. Bangsa-bangsa lain tidak begitu berhasil membuat aspirasi kebangsaan mereka terasa dan terdengar. Mereka adalah orang Polandia di tiga negara, orang Ceko, orang Wales, orang Irlandia, orang Finlandia, dan orang Yahudi. Di mana-mana terjadi kemunculan ulang bahasa yang terlupakan, kebangkitan kembali “budaya” yang telah lama mati, dan bersama itu semua datanglah hal-hal kebangsaan secara bersamaan: kebanggaan nasional picik, kecemburuan kecil, perpecahan, pertumpahan darah, dan peperangan.

Mulanya para penguasa dunia memerangi semangat baru ini, tapi berangsur-angsur mereka melihat potensi-potensinya, dan kemudian, dengan tampak menindasnya, mereka memupuk pertumbuhannya dan meningkatkan kekuatannya. Manifestasi-manifestasi yang akan tampak konyol seandainya tidak ada oposisi terlihat sebagai tugas patriotis di hadapan “penindasan asing”. Jadi “penindasan” berlanjut, sementara pasukan-pasukan nasionalisme, yang tertahan sebentar, bertambah sampai mereka mampu mengerahkan tekanan dahsyat. Kemudian datanglah bencana demi bencana, dan, akhirnya, malapetaka hebat 1914, sebuah monumen abadi nasionalisme yang sedang mekar-mekarnya.

Alasan ekonomi adalah, tentu saja, akar peperangan. Tapi hari ini, di mana semua khotbah nasionalistis ini tanpa sadar menguntungkan pihak berwenang, mengaburkan fakta ini jadi lebih mudah daripada sebelumnya. Nasionalisme adalah jubah yang di baliknya alasan-alasan ekonomi bekerja.

Mari kita periksa dengan hati-hati pembuka perang ini. Seorang nasionalis Serbia membunuh Pangeran Austria. Tindakan ini, dengan pengelolaan tepat, dibuat untuk terlihat sebagai serangan terhadap nasionalisme Austria. Austria membuat tuntutan tertentu—yang tidak penting bagi kita—pada Serbia. Serbia, yang menganggap kebanggaan nasionalnya diserang, protes. Rusia, pelindung eksistensi nasional Serbia, melangkah masuk. Austria keberatan terhadap campurtangan Rusia dengan alasan melanggar kedaulatan nasionalnya. Rusia memobilisasi. Jerman, di bawah pengaruh keranjingan nasionalistis, Pan-Jermanisme, berbaris dengan Austria. Perang mengikuti.

Nasionalisme Prancis merasa perih oleh pukulan tahun 1870. Jadi Prancis membentuk aliansi dengan Rusia. Karenanya, Prancis berada dalam perang. Belgia juga punya nasionalisme. Nasionalismenya diserang. Ini merupakan serangan terhadap “kehormatan” Inggris. Karenanya Inggris masuk ke dalam perang. Italia, yang paling nasionalistis di antara semua negara, melihat peluang untuk “menebus” lebih banyak “bangsa”-nya dari “penindas asing”, dan bergabung dalam kekacauan. Di setiap kasus kita menemukan nasionalisme.

Tentu saja, Sosialis ortodoks akan berkata, “Tapi nasionalisme bukan alasan sesungguhnya; penyebab sesungguhnya perang ini adalah persaingan ekonomi.” Memang! Tapi rakyat pikir kebanggaan nasional merekalah yang diserang, dan ini, dan hanya ini, telah membuat rakyat bertempur. Para raja dan kapitalis memanfaatkan gerakan rakyat secara sangat cerdik. Mereka membalik senjata rakyat melawan rakyat, dan rakyat belum tahu itu.

Suatu hari nanti bangsa-bangsa besar, pun, akan melihat bahwa satu bangsa lebih baik daripada banyak, dan kemudian akan datang internasionalisme, yang berarti tidak ada nasionalisme.

Nasionalisme selalu mengklaim kebajikan tertentu sebagai milik khas dan eksklusif bangsa tertentu. Jika individu-individu membuat klaim semacam ini, mereka ditertawakan. Mengapa—dengan logika apa—bangsa-bangsa boleh membuat klaim semacam ini? Nasionalisme mengklaim bahwa budaya yang dimiliki suatu bangsa berbeda dengan yang dimiliki bangsa lain. Ini memang demikian di masa lalu, tapi evolusi alamiah umat manusia menjadikannya kurang demikian. Peningkatan sarana komunikasi—telegraf, nirkabel, jalan kereta, kapal uap, pesawat terbang—telah menyebabkan bangsa-bangsa bertukar produk mereka sampai, hari ini, tidak ada perbedaan esensial di antara negara-negara di dunia. Bahkan bahasa cenderung menjadi universal. Lebih banyak orang saling mengerti satu sama lain hari ini daripada sebelumnya. Pemerintahan jadi mirip dengan satu sama lain. Kode etik jadi mendunia. Hanya dengan jenis propaganda yang sangat dibuat-buatlah nasionalisme tetap hidup.

Nasionalis sering mengklaim doktrin yang dilafalkan oleh [Herbert] Spencer, bahwa evolusi berproses dari keseragaman menuju keberagaman, sebagai pembenaran khusus mereka. Benar bahwa karena percampuran kebiadaban bangkitlah suatu bangsa, dan bahwa dalam 2.000 tahun terakhir bangsa-bangsa besar telah remuk dan tunduk pada bangsa-bangsa kecil. Tapi jika nasionalis melaksanakan doktrin ini sampai ke kesimpulan finalnya, mereka akan perhatikan bahwa itu mendalilkan pecahnya bangsa menjadi individu-individu. Ini, akhirnya, sama dengan tamatnya nasionalisme, moralitas kelompok, kesadaran nasional, yang kesemuanya akan lenyap dalam kesadaran individual.

Nasionalisme adalah kutukan bukan kepalang. Itu membawa kepada sovinisme dan agresi nasional. Itu membawa kepada patriotisme demi tanah, demi sepotong permukaan bumi yang di atasnya seseorang dilahirkan. Itu membawa kepada kesempitan dan kefanatikan, kepada kecemburuan nasional dan kebanggaan remeh. Pan-Slavisme dan Pan-Jermanisme adalah anak-anaknya.

Pada akhirnya, nasionalisme adalah jubah terbaik untuk intrik dan akal bulus para raja dan kapitalis.

Edited by Tim Davenport, November 2013
1000 Flowers Publishing, Corvallis, OR

Advertisements

One thought on “Nasionalisme — Penyebab Peperangan

  1. Penguasa – penguasa itu hanya menjadikan nasionalisme sebagai kambing hitam
    Padahal mereka melakukannya untuk merusak moral, memecah belah persaudaraan, menguasai suatu daerah dan kepentingan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s