Oleh: Tammam O. Abdulsattar
14 November 2013
Sumber: E-International Relations

Konten ini ditulis oleh seorang mahasiswa dan dievaluasi sebagai bagian dari gelar universitas. E-IR mempublikasikan esai dan disertasi mahasiswa agar pembaca dapat memperluas pemahaman akan suatu kemungkinan saat menjawab pertanyaan serupa dalam studinya sendiri.

Globalisasi, nasionalisme, dan hubungan antara keduanya menjadi subjek perdebatan di kalangan cendekiawan dalam disiplin hubungan internasional. Kedua konsep mempunyai kedudukan penting di dunia kontemporer. Nilai penting mereka terletak pada pembentukan masyarakat modern dan negara-bangsa, serta peran mereka di sebuah dunia yang semakin saling tergantung. Faktanya, nasionalisme mengalami banyak kesulitan bertahan di dunia ini, dan sebagian pihak berargumen ia menjadi kurang penting. Namun yang lain menyebut nasionalisme mendapat untung dari globalisasi dan menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Oleh sebab itu, untuk menggali efek-efek globalisasi terhadap nasionalisme dan untuk membahas hubungan mereka, esai ini akan meninjau konsep globalisasi dan nasionalisme, bagaimana kedua konsep berinteraksi dengan satu sama lain, dan apa saja aspek kunci dari interaksi ini.

Globalisasi didefinisikan sebagai penghapusan hambatan perdagangan, komunikasi, dan pertukaran budaya. Dunia hari ini sangat berbeda dari sebelumnya, disebabkan oleh globalisasi. Dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, dunia jadi terdeteritorialisasi (Robertson, 1996), batasan geografi menyusut dan dunia semakin tunggal dan tersatukan (Waters, 2011). Bicara soal efek positif atau negatif globalisasi, sebagian memandangnya sebagai kekuatan yang merusak warisan dan budaya kelompok-kelompok etnis di seluruh dunia. Bagi mereka, globalisasi adalah mimpi buruk yang sedang terjadi di masa kini dan akan berlanjut selama bergenerasi-generasi. Beberapa efek globalisasi bisa dilihat melalui, contohnya, pengenaan pakaian Adidas, mendengarkan iPod, menonton serial televisi Barat, memakan McDonald’s, minum Starbucks atau Coca Cola, dan bahkan berbicara dalam bahasa gaul Inggris ter-Amerika-kan (Godfrey, 2008). Ini menggambarkan dominansi budaya Barat atas seluruh dunia. Imperialisme budaya adalah imperialisme wajah-wajah dominan barat. Seiring teknologi dan sains berkembang di barat, kawasan-kawasan dunia lain mulai meminjam teknologi ini, dan dengan begitu gagasan dan nilai yang berasal dari barat menjadi standar seluruh dunia. Dalam kata-kata Peter Evans, “Produk dan gagasan yang dikembangkan di negara-negara kaya membentuk nilai dan gagasan warga negara-negara miskin” (Evans, 1971, 638).

Dominansi ini membuat beberapa kelompok nasional melawan globalisasi dan keburukan yang diyakini ditimbulkannya (Godfrey, 2008). Globalisasi sebagai konsep mengacu pada “pemampatan dunia dan menguatnya kesadaran dunia secara keseluruhan…baik saling ketergantungan global yang konkret maupun kesadaran seluruh dunia di abad 20” (Robertson, 1992, hal. 8). Kutipan ini menunjukkan bagaimana dunia telah menjadi tempat tunggal yang terhubung melalui suatu cara. Menurut Giddens, “globalisasi diidentifikasi sebagai penguatan hubungan sosial sedunia yang mempertautkan daerah-daerah berjauhan secara sedemikiran supa sehingga kejadian setempat dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dan sebaliknya” (Giddens, 1990). Oleh sebab itu, segala sesuatu terhubung dengan satu sama lain sedemikian rupa sehingga sulit untuk tidak menjadi bagian darinya.

Meski globalisasi bukanlah fenomena baru, globalisasi dewasa ini melibatkan beberapa perubahan nyata dari segi skala, kecepatan, dan kognisi. Dari segi skala, jumlah pertalian ekonomi, politik, dan sosial antar masyarakat lebih besar. Dari segi kecepatan, globalisasi melibatkan pemampatan waktu dan ruang. Dari segi kognisi, terdapat peningkatan persepsi bumi sebagai tempat lebih kecil (Kinnvall 2002 dikutip dalam Kinnvall 2004). Jadi perubahan di dunia telah mengalihragam hubungan sosial, ekonomi, dan politik ke dalam proses-proses lebih cepat dan lebih intensif yang menghasilkan arus dan jaringan kegiatan lintas benua atau antar kawasan (Held dan McGrew, 2003: 16).

Istilah “nasionalisme” merujuk pada rasa keterikatan dengan satu sama lain yang dimiliki anggota sebuah bangsa, dan merujuk pada rasa bangga yang dimiliki sebuah bangsa akan dirinya sendiri (Kacowicz, 1998). Nasionalisme sendiri merupakan ideologi internasional, yang dapat dipakai untuk menggalakkan dan mempertahankan budaya dan cara hidup tertentu (Godfrey, 2008). Contoh nasionalisme adalah ketika seseorang pindah dari negara asalnya, tapi masih bersorak untuk tim olahraga di negara asal dan terus mengikuti berita lokal. Nasionalisme merupakan fondasi masyarakat modern dan kesetiakawanan sosial; ia juga dipakai oleh politisi untuk menggalakkan pesatuan nasional dan patriotisme. Pakta Westphalia pada 1684 mendirikan negara-bangsa, di mana keanggotaannya menjadi identitas, yang merupakan dasar masyarakat modern. Nasionalisme diproklamirkan sebagai cita-cita negara yang berusaha memajukan kepentingan mereka pada perdamaian atau peperangan, demi menggembleng pendapat khalayak agar mendukung tujuan mereka.

Menurut Riggs, “Orang-orang bisa menjalankan kedaulatan hanya ketika mereka menikmati suatu rasa kesetiakawanan berdasarkan nilai dan adat bersama. Kesetiakawanan ini dikonkretkan ke dalam konsep bangsa” (Riggs, 2002). Nasionalisme berkontribusi pada perang-perang besar abad 21, contohnya melalui sengketa perbatasan yang timbul dari pembagian kelompok-kelompok etnis menurut perbatasan wilayah. Jadi, nasionalisme punya sejarah panjang, bahkan sebelum globalisasi, dan ia senantiasa diperjuangkan oleh orang-orang.

Salah satu varian nasionalisme, nasionalisme ekonomi, dalam banyak hal membahayakan negara yang mengamalkannya. Salah satu wujud utama nasionalisme ekonomi adalah proteksionisme, yang merugikan ekonomi global secara umum (Campe, 2008). Seiring dunia menjadi saling tergantung, nasib suatu negara tertaut dan terikat dengan nasib negara lain. Ini, dalam banyak hal, adalah ciri dasar globalisasi; karenanya, sebuah negara yang ingin memutus ikatan dengan negara-negara lain akan ketinggalan.

Perihal hubungan antara globalisasi dan nasionalisme, bisa dibilang ada tiga argumen utama yang menyinggungnya. Argumen pertama menyebut globalisasi telah mengurangi nasionalisme, akibat meningkatnya saling ketergantungan dan melemahnya hambatan nasional antar negara. Di samping itu, pemampatan waktu dan ruang memungkinkan orang-orang berinteraksi lebih cepat, sehingga perbedaan nasional menghilang atau minimal menjadi kurang penting atau kurang nyata. Argumen kedua berpendapat globalisasi dan nasionalisme memiliki hubungan campuran di mana yang satu menghasilkan yang lain dan yang satu menggalakkan yang lain. Argumen ini menekankan bahwa sistem negara-bangsa didirikan sebelum globalisasi, dan setiap negara telah berkontribusi pada timbulnya sistem global. Namun, di bawah globalisasi, negara-bangsa masih berfungsi dan menggalakkan sistem global. Argumen ketiga menyebut globalisasi telah menaikkan sentimen nasionalisme. Esai ini akan memeriksa ketiga argumen, dan berdasarkan bukti tersebut akan mengakhiri dengan jawaban gamblang, yang mengutamakan salah satu argumen di atas, untuk pertanyaan dalam judul.

Dalam argumen pertama, di mana globalisasi mengurangi nasionalisme, John Kusumi berargumen, “Globalisasi adalah anti-tesis nasionalisme lantaran menyatakan bahwa tak ada perbatasan, yang ada cuma satu bumi” (Godfrey, 2008). Nilai penting nasionalisme berkurang, karena “kita hidup di dunia yang menyusut sekaligus mengembang, mendekat sekaligus menjauh, perbatasan nasional semakin tak relevan” (Attale 1991, dikutip dalam Lerche 1998). Jadi, dengan globalisasi, nasionalisme kehilangan daya untuk menjaga kesatuan masyarakat suatu bangsa dan menarik garis merah antara kebangsaan-kebangsaan berbeda.

Lebih jauh, Hobsbawm berargumen puncak nasionalisme sudah berlalu, dan bahwa kekuatan, daya, dan relevansinya tidak sebagaimana di abad 19. Di masa lalu, terdapat perbatasan nasional jelas, perasaan tradisional dan nasional kuat di antara masyarakat suatu bangsa, dan tidak banyak sarana menjalin kontak dengan orang lain. Tapi di dunia terkini, segala sesuatu menjadi cepat dan terintegrasi, sampai-sampai Anda tak bisa mengidentifikasi orang-orang dan kebangsaan mereka. Peningkatan kontak di antara orang-orang berkat integrasi masyarakat dunia sering diasosiasikan dengan bertambahnya stereotipe dan kebencian terhadap orang lain, dan peningkatan konflik (Butt, 2012). Seiring kian banyak orang dari berbagai kebangsaan berkumpul dan berinteraksi, perselisihan akan semakin banyak. Sebagai contoh, dalam program pendidikan multi-budaya, terjadi perebutan presentasi klaim identitas. Menurut Giddens 1991, “hidup dengan sikap kalkulatif terhadap segala kemungkinan perbuatan, positif maupun negatif, yang dengannya, sebagai individu dan secara global, kita dihadapkan secara terus-menerus dalam eksistensi sosial kontemporer” (Robertson, 1996). Interaksi demikian dapat dilihat sebagai dampak globalisasi terhadap nasionalisme di mana seseorang tak bisa hidup dengan orang lain.

Pada tingkat budaya, dunia telah bergeser dari budaya nasional ke budaya campuran di seluruh dunia, menghasilkan budaya global terhomogenkan, alih-alih nasionalisme. TNC (transnational corporation), yang beroperasi secara global, memainkan peran dalam membentuk pasar global, yang membuat nasib suatu negara bergantung pada nasib ekonomi negara lain. Perkembangan komunitas global, melalui saling ketergantungan, teknologi baru, dan bahkan produksi media, menantang pemikiran nasionalis. Globalisasi, dengan demikian, “mengandung banyak ancaman bagi nasionalisme, mulai dari keikutsertaan di organisasi internasional, hilangnya bagian-bagian kedaulatan negara, hingga teknologi maju, dan mobilitas mudah orang-orang di seluruh dunia” (Campe, 2008).

Satu isu lain adalah imigrasi mempunyai dua wajah bertolak belakang, di mana satu wajah mendukung argumen berkurangnya nasionalisme, sementara wajah lain mendukung bertambahnya rasa kebangsaan. Wajah pertama adalah bahwa melalui pertumbuhan imigrasi, globalisasi menghadirkan resiko dan tantangan keamanan bagi nasionalisme (Natalie, 2010). Dari sudutpandang budaya dan tradisi, ketika semakin banyak orang berimigrasi ke negara lain, mereka akan mempengaruhi struktur kemasyarakatan dan karenanya mengubah demografi negara tersebut, yang mengakibatkan penurunan rasa kebangsaan. Wajah kedua diterangkan oleh Godfrey: “Migrasi orang-orang dari Dunia ke-3 ke negara-negara Barat adalah buah globalisasi yang menghasilkan ketegangan rasial dan budaya di banyak wilayah Eropa dan Amerika” (Godfrey, 2008). Karenanya, perubahan dan tantangan tersebut telah mempengaruhi

Kerangka pelindung komunitas kecil dan tradisi, menggantikannya dengan banyak organisasi non-personal lebih besar. Individu merasa kehilangan dan sendirian di dunia di mana dia tak punya dukungan psikologis dan rasa aman yang disediakan oleh setting tradisional” (Giddens 1991 dikutip dalam Kinnvall 2004).

Argumen kedua adalah globalisasi dan nasionalisme memiliki hubungan campuran di mana yang satu menghasilkan yang lain dan yang satu menggalakkan yang lain. Sebagian memandang globalisasi sebagai buah nasionalisme, sebab setiap bangsa berpartisipasi dan menyumbang sesuatu kepada dunia dalam tindakan kolektif yang sukses (penulis tak diketahui, Nationalism and Globalization, 2009). Ini mengisyaratkan bahwa setiap bangsa merdeka terlibat dalam menyusun dunia seperti sekarang. Ini bisa saja terjadi melalui interaksi dagang di masa lalu. Jadi, tanpa eksistensi nasionalisme, globalisasi takkan terwujud.

Lebih jauh, globalisasi telah menggalakkan nasionalisme, sebagaimana dalam kasus ilmu sosial Barat, di mana ia menjadi sumber budaya di berbagai kawasan dunia. Sebagai contoh, karya Durkheim tentang tema agama sipil sangat berpengaruh dalam pendirian Republik Turki baru pada 1920 (Robertson, 1996). Ini menunjukkan, apa yang terjadi atau dihasilkan di kawasan atau negara tertentu mempengaruhi kawasan atau negara lain secara positif, yang memperdalam rasa nasionalisme. Jangan lupakan fakta bahwa nasionalisme pertama kali didirikan di Eropa dalam Pakta Westphalia 1648 (Vensatd, 2012). Maka dari itu, globalisasi dan nasionalisme dapat hidup rukun dan mengambil manfaat dari satu sama lain. Menurut Natalie, “Koeksistensi mereka bukanlah pertempuran di mana hanya satu yang ditakdirkan muncul sebagai pemenang dan yang lain sebagai pecundang; ini adalah koeksistensi saling menguntungkan dari dua kecenderungan yang selaras” (Natalie, 2010). Beberapa contoh hubungan ini dapat ditemukan di Georgia, di mana kekuatan nasionalis sedang mengusahakan globalisasi lebih besar melalui integrasi dalam struktur Euro-Atlantik dan menarik Investasi Asing Langsung. Selain itu, para elit negara-negara Eropa Timur juga merumuskan kampanye penggabungan mereka ke struktur Euro-Atlantik dari segi pemenuhan aspirasi nasional, termasuk meraih penerimaan, pengakuan, dan jaminan keamanan. Ini mengimplikasikan nasionalisme dapat bertindak sebagai “doktrin yang meletakkan aturan main dasar untuk gerakan apapun yang mencoba meraih atau mempertahankan kekuasaan politik” (Benner, 2001). Dalam hal ini, politik budaya membantu politik kekuasaan dan karenanya nasionalisme dan globalisasi dapat dan memang hidup berdampingan (Natalie, 2010).

Argumen ketiga menyebut globalisasi telah meningkatkan rasa nasionalisme sedemikian rupa sehingga muncul ekstrimisme kebangsaan. Menurut Douglas Kellner,

Bahkan sejak akhir 1980-an sampai sekarang, terdapat kebangkitan nasionalisme, tradisionalisme, dan fundamentalisme agama di samping tren ke arah pertumbuhan globalisasi. Letusan pertikaian kawasan, budaya, dan agama di bekas Uni Soviet dan Yugoslavia serta konflik suku di Afrika dan tempat lain mengindikasikan globalisasi dan homogenisasi tidak sedalam yang diharapkan pendukungnya dan tidak sedalam yang ditakutkan pengkritiknya. Dengan demikian budaya telah menjadi sumber konflik baru dan dimensi pergumulan penting antara global dan lokal (Godfrey, 2008).

Dari kutipan tersebut, kita lihat nasionalisme di zaman globalisasi merupakan respon terhadap masalah ekonomi dan politik. Karena globalisasi adalah kekuatan eksternal yang mendesak kelokalan hingga mengakibatkan berkurangnya rasa kebangsaan, kelokalan merespon kuat tekanan ini dengan mengadopsi rasa kebangsaan lebih kuat. Menurut Giddens, “Kebangkitan nasionalisme lokal dan penonjolan identitas lokal terikat langsung dengan pengaruh-pengaruh mendunia yang mereka tentang” (Giddens 1994 dikutip dalam Natalie 2010).

Bertambahnya komunikasi dan interaksi membawa pada tumbuhnya kesadaran akan perbedaan identitas dan budaya, membawa pada naiknya proyeksi perselisihan etnis, budaya, dan kebangsaan, membawa pada bertambahnya konflik. Sebagai contoh, beberapa geng dan kelompok kebangsaan dibentuk oleh para mahasiswa di beberapa universitas Eropa (Bloom 1993 dikutip dalam Butt 2012). Mesin cetak juga berdampak masif, lantaran memungkinkan orang-orang mengekspresikan budaya dan kebangsaan mereka kepada yang lain, sehingga orang lain dapat melihat jauh keluar komunitas dan perbatasannya. Lebih lanjut, peningkatan imigrasi telah menghasilkan kenaikan partai sayap kanan di Eropa dan Inggris (Butt, 2012). Semua ini menunjukkan satu fakta penting, yakni kenaikan nasionalisme sebagai respon terhadap globalisasi. Biasanya nasionalisme kanan radikal didorong oleh organisasi partai ketimbang pergerakan massa, dan itu melibatkan lebih dari rasisme dan ideologi neo-fasis: yaitu ideologi politik dan otoriterisme budaya (Delanty dan O’Mahony, 2002, hal. 148).

Di dunia global kita, merasa bangga akan warisan, budaya, dan kebangsaan sudah menjadi tabu dalam banyak hal (Godfrey, 2008). Globalisasi meningkatkan kesadaran akan heterogenitas sosial karena demokrasi memungkinkan orang-orang untuk berpartisipasi dan kebebasan berbicara dijamin, sehingga kelompok-kelompok yang identitasnya berdasarkan ras, etnis, agama, bahasa menjadi semakin vokal dan memanfaatkan media global untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka. Pasca Perang Dingin, ketika negara dilemahkan oleh globalisasi, minoritas mampu lebih efektif menegaskan identitas mereka dalam reaksi terhadap kekuatan budaya yang hegemonis. Untuk itu, kebanyakan cendekiawan percaya nasionalisme justru akan menguat seiring negara menghadapi tantangan globalisasi yang bertambah. Dengan kata lain ketika negara lemah, rasa kebangsaan menjadi lebih kuat (Hobsbawm, 1992).

Bukti menunjukkan, di republik-republik bekas Uni Soviet, nasionalisme baru terlahir dari ketidakamanan dan pencarian kemurnian etnis. Berkat globalisasi, minoritas di banyak negara bermobilisasi menuntut keadilan dan penghormatan, dan komunitas-komunitas mapan seringkali menolak tuntutan ini (Riggs, 2012). Uni Soviet sudah runtuh, dan banyak kebangsaan dan minoritas berada di bawah perlindungan atau penindasan Uni Soviet; para minoritas ini menghirup kebebasan pasca keruntuhan tersebut dan karenanya mereka menuntut hak memerintah sendiri berdasarkan identitas dan kebangsaan mereka. Menurut Delanty dan O’Mahony, “Identitas nasionalis mengklaim sebagai dasar mobilisasi. Mobilisasi nasional tumbuh di atas ketidakamanan dan ketidakpastian seiring kategori-kategori keterlibatan kelompok menajam dalam panasnya perbantahan” (Delanty dan O’Mahony, 2002, hal. 144). Ini menghasilkan lebih banyak konflik dengan lahirnya kebangsaan-kebangsaan baru, “Budaya-budaya nasional melahirkan konfrontasi antara orang Serbia, Muslim, dan Kroasia, Armenia dan Azerbaijan” (Godfrey, 2008). Jadi sebagai respon terhadap negara lemah yang bukan lagi promotor dan pelindung kepentingan dalam negeri melainkan antek kekuatan luar, minoritas mengangkat suara kebangsaan mereka (Scholte 1997 dikutip dalam Lerche 1998).

Dalam globalisasi, negara-negara kuat adalah mereka yang memiliki pengaruh besar terhadap seluruh dunia. Karenanya, “Usaha Barat untuk menggalakkan nilai-nilai demokrasi dan liberalismenya sebagai nilai universal demi mempertahankan keunggulan militer dan memajukan kepentingan ekonominya hanya akan menimbulkan respon tentangan dari peradaban-peradaban lain” (Huntington 1993 dikutip dalam Lerche 1998). Lagi-lagi, di sini kita melihat respon dari kebangsaan dan peradaban lain yang merasa inferior atau kurang berdaya di zaman globalisasi akibat status sosial, ekonomi dan politik di hadapan Barat.

Menurut Fuller (1995),

Sistem-sistem pemasaran dan komunikasi internasional menciptakan jalan bebas hambatan untuk impor besar-besaran materi budaya, makanan, obat, pakaian, musik, film, buku, acara TV luar negeri, diiringi hilangnya kendali atas masyarakat. Kegelisahan budaya demikian menjadi bahan bakar bagus bagi kelompok-kelompok politik lebih radikal yang menyerukan keaslian budaya, pelestarian nilai tradisi dan agama, dan penolakan antigen budaya asing (Fuller 1995 dikutip dalam Lerche 1998).

Si pengarang di sini jelas dalam menunjukkan bagaimana sistem global dirancang dengan cara yang memungkinkan orang lain merespon. Jadi, alih-alih memperluas dominansi budaya Barat, “Kita sedang menyaksikan pertemuan rebutan dan nyata antara arus budaya global dan identitas lokal warisan” (Waters 1995 dikutip dalam Lerche 1998). Di sisi lain, Giddens juga menyatakan bahwa, “Proses globalisasi mempunyai efek transformatif dan tak merata terhadap semua bagian sistem global. Ini mengisyaratkan globalisasi bukan sekadar proses satu arah, menyebarkan peradaban Barat ke seluruh dunia. Justru, pengalaman menunjukkan kebalikannya” (Giddens, 1992). Jadi, alih-alih menghancurkan budaya lokal, globalisasi cenderung mendorong respon melalui naiknya kelokalan dan gerakan nasionalis di seluruh dunia.

Menimbang argumen ini, seseorang semisal Smith 1998 akan berargumen bahwa nasionalisme lebih kuat daripada globalisasi dan karenanya tidak bisa dilemahkan atau dibuat kurang penting. Dia menyatakan, “Bangsa-bangsa mempunyai akar yang dalam dan mereka didasarkan pada identitas pra-politik, budaya, dan etnis; signifikansi sosial dan moral mereka menopang kekuatan dan menjelaskan perlawanan mereka” (Smith 1991 dikutip dalam Natalie 2010). Dia menambahkan bahwa globalisasi bukan berarti akhir nasionalisme. Budaya kosmopolitan yang eksis hari ini tidak punya kemampuan untuk mendorong orang-orang menyukai nasionalisme; namun dunia sedang menyaksikan kenaikan nasionalisme ekstrim (Smith, A. 1998).

Dalam pandangan ini, nasionalisme timbul sebagai doktrin budaya, yang berusaha melestarikan dan menggalakkan identitas, budaya, dan otonomi sebuah bangsa. Smith (1991) mendukung pandangan ini serta Tamer (1993) ketika menyatakan, “Gerakan kebangsaan dimotivasi oleh hasrat untuk memastikan eksistensi dan tumbuhnya komunitas tertentu demi melestarikan budaya, tradisi, bahasanya” (Natalie, 2010, hal. 170). Intinya di sini adalah nasionalisme sebagai respon terhadap globalisasi muncul sebagai pelindung budaya yang ingin mengembalikan masyarakat ke tradisi dan nilai mereka. Menurut Beyer,

Merespon perkembangan modern, para pemimpin agama dan nasional mungkin membicarakan kemerosotan moral dan etika dengan menunjuk kurangnya moralitas, hilangnya nilai etika, dan naiknya korupsi di masyarakat modern. Maka dari itu, solusinya adalah kembali ke nilai tradisional dan norma agama (Beyer 1994 dikutip dalam Kinnvall 2004).

Nah, setelah menyinggung argumen terakhir yang beragumen kenaikan nasionalisme adalah respon terhadap globalisasi, di dalam argumen ini terdapat kenaikan fundamentalisme. Fundamentalisme sebagai konsep mengacu pada kelompok-kelompok yang bukan melawan globalisasi semata tapi juga struktur dunia secara keseluruhan. Menurut Robertson, “Perlawanan terhadap globalisasi kontemporer, contohnya sisi radikal gerakan Islam, akan dianggap sebagai oposisi bukan saja terhadap sistem terhomogenkan tapi juga terhadap konsepsi dunia sebagai serangkaian [komponen] yang setara secara budaya” (Robertson, 1996). Dengan demikian fundamentalisme menantang ide homogenitas budaya dan kebangsaan, dan menghasut nasionalisme ekstrim.

Menurut Barber 1996, dia mendeskripsikan gerakan fundamentalis sebagai “Picik ketimbang kosmopolitan, marah ketimbang mencintai, fanatik ketimbang rasionalis, etnosentris ketimbang universal, cengeng dan melumat, tak pernah berintegrasi” (Barber, 1996). Jadi, kutipan ini mengisyaratkan globalisasi menarik semua kelompok identitas di planet ini dari berbagai derajat keterpencilan mereka, mendorong mereka ke dalam arus struktur global dan dengan begitu mengharuskan mereka mendefinisikan ulang tema-tema dalam kaitan dengan tren global (Lerche, 1998). Di sini kita lihat bagaimana globalisasi menjadi penyebab langsung kenaikan fundamentalisme dengan memaksa berbagai kebangsaan dan budaya untuk berintegrasi dan beradaptasi dengan struktur baru. Sebagai akibatnya, fundamentalisme bangkit melawan paksaan globalisasi.

Selanjutnya, hubungan antara globalisasi dan kenaikan fundamentalisme dibentuk oleh kebutuhan masyarakat, kawasan, peradaban, dan entitas sub-nasional untuk mendeklarasikan identitas mereka untuk kepentingan internal maupun eksternal akibat pemampatan ruang-waktu. Karenanya, fundamentalisme adalah reaksi terhadap globalisasi (Robertson, 1996). Sebagaimana saya jelaskan di awal esai ini, bahwa nasionalisme berakar mendalam pada proses pra-sejarah dan pra-politik, fundamentalisme sebagai konsep mungkin dapat sama-sama disalahtafsirkan oleh pihak-pihak berbeda. Sebagian memandangnya sebagai gerakan destruktif bagi bangsa-bangsa dan bagi dunia secara keseluruhan, sementara sebagian lain memandangnya sebagai moda pemikiran dan praktek yang terlembaga secara global di mana norma penentuan nasib nasional dan budaya sendiri dirasakan. Pada akhirnya fundamentalisme membuat globalisasi bekerja (Robertson, 1996).

Aliansi nasional Bulgaria menyatakan mendukung pendirian front nasionalis bersatu melawan globalisasi, NATO, dan UE dalam bentuknya yang sekarang, serta politik korup Bulgaria (Godfrey, 2008). Ini adalah contoh nasionalisme ekstrim yang sangat mendukung argumen kenaikan nasionalisme di bawah globalisasi. Contoh lain adalah para aktivis Kanan Baru dan kaum anarkis nasional yang memilih frasa “globalisasi adalah genosida” pada spanduk mereka dalam protes terhadap APEC September 2007 silam. Ini lagi-lagi menunjukkan bagaimana perasaan kelompok-kelompok ini terhadap sistem global dan juga menunjukkan sudah seberapa kuat gerakan ini. Jadi, kelompok nasionalistis yang ingin melestarikan identitas mereka melawan agenda destruktif globalisasi. Pada akhirnya, globalisasi, karena mengusahakan komunitas global tanpa hambatan nasional, sebetulnya memupuk tumbuhnya perasaan kebangsaan (Godfrey, 2008).

Sebagai kesimpulan, makalah ini berargumen bahwa globalisasi adalah pedang bermata ganda, dan bahwa telah terjadi kenaikan nasionalisme nyata di bawah globalisasi. Dengan tumbuhnya globalisasi dan perubahan yang ditimbulkannya pada dunia, kaum minoritas, kebangsaan, dan kelokalan telah bangun dan menjadi lebih sadar akan ancaman globalisasi. Ancaman ini eksis dalam sifat globalisasi yang menghomogenkan, yang membuat orang-orang dan kebangsaan melebur jadi satu. Ini melahirkan peningkatan rasa kebangsaan sebagai respon terhadap kekuatan globalisasi demi melindungi budaya, tradisi, dan kebangsaan dari peleburan atau pengadopsian struktur dunia baru yang ditimbulkan oleh globalisasi. Namun, nasionalisme telah menciptakan xenofobia di mana orang-orang khawatir kebangsaan dan tradisi mereka akan lenyap di hadapan globalisasi. Karenanya, mereka menciptakan atau mengarang tradisi atau menegakkan ulang tradisi lama di mana mereka mempertahankan identitas. Seperti kata Deutsch, “Xenofobia tertulis ke dalam jantung nasionalisme” (Delanty dan O’Mahony, 2002, hal. 167). Jadi, ketakutan terhadap kekuatan globalisasi telah melahirkan peningkatan rasa nasionalisme dan sarana lebih defensif untuk melindungi atau bahkan mengarang tradisi hanya demi melawan globalisasi.

Di sisi lain, globalisasi dapat dipandang sebagai tantangan terhadap nasionalisme dalam arti ia meningkatkan imigrasi dan pergerakan manusia, yang mungkin menciptakan sumber ketegangan baru dan menimbulkan kesulitan baru bagi pengelolaan kebhinnekaan budaya dan etnis (Natalie, 2010). Beberapa ancaman lain mencakup keikutsertaan dalam organisasi internasional dan kehilangan bagian-bagian kedaulatan negara atas wilayahnya sendiri, serta integrasi regional yang mengikis ideologi nasionalis. Argumen ini mungkin kelihatannya dapat dipromosikan dan beralasan, tapi bukti memperlihatkan sebaliknya. Sebagai contoh, UE adalah organisasi internasional dan pada saat yang sama ia memperkuat Eropa.

Di dunia terglobalisasi, banyak ciri nasionalisme tampaknya telah hidup kembali. Peningkatan pergerakan migrasi memupuk xenofobia di antara masyarakat. Percampuran budaya dan kemunculan budaya hibrid menyulitkan orang-orang untuk menemukan identitas mereka dan memperkenankan mereka berpaling kepada budaya mereka sendiri (Campe, 2008). Ini berarti kekuatan globalisasi telah mendorong nasionalisme bangkit lagi dan lebih signifikan daripada sebelumnya, seiring masyarakat menyadari bahwa mereka tersesat tanpa identitas dan kebangsaan mereka. Menemukan identitas adalah penting untuk alasan keamanan di dunia modern yang tidak aman. Kecenderungan ke arah rasa kebangsaan kuat dibakar oleh “ketakutan akan berkurangnya sumberdaya ekonomi untuk golongan yang tidak aman secara sosial” (Delanty dan O’Mahony, 2002, hal. 156).

Memang benar globalisasi punya potensi untuk membendung nasionalisme agresif yang tumbuh di atas keterpencilan dan ketidakamanan. Ia juga menciptakan dorongan untuk penyelesaian dan pencegahan konflik gara-gara integrasi. Namun, pada saat yang sama, ia membangkitkan respon nasionalistik dalam wujud radikalisme sayap kanan atau fundamentalisme agama yang bereaksi terhadap aspek-aspek globalisasi seperti imigrasi dan restrukturisasi ekonomi tradisional (Sassen, 1998).

Rujukan

  • Barber, R. (1992). Jihad V. McWorld. The Atlantic Monthly.
  • Benner, E. (2001). Is There a Core National Doctrine? Nations and Nationalisms. Hal. 157.
  • Butt. A. (2012). What Does Globalization Mean for Nationalism?
  • Campe, Ch. (2008). Globalization and its effects on Nationalism.
  • Delanty, G. dan O’Mahony, P. (2002). Nationalism and Social Theory: Modernity and the Recalcitrance of the Nation. London: Sage Publications.
  • Evans, Peter (1971). National Autonomy and Economic Development: Critical Perspectives on Multinational Corporations in Poor Countries, International Organization 25(3): 675-692.
  • Giddens, A. (1990). The Consequences of Modernity. Cambridge: Polity Press.
  • Giddens, A. (1992). The Transformation of Intimacy. Cambridge: Polity Press.
  • Godfrey, C. (2008). The struggle between nationalism and globalization. Tersedia di www.newrightausnz.com. Diakses 5 Mei 2013.
  • Held D. dan McGrew, A. (2003). The Global Transformation Reader: An Introduction to the Globalization Debate. Cambridge, Inggris: Polity Press.
  • Hobsbawm, E. (1992). Nations and Nationalism Since 1780. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Kacowicz, A. (1998). REGIONALIZATION, Globalization, And Nationalism: Convergent, Divergent, or Overlapping? Kellogg Institute, Working Paper #262.
  • Kinnvall, C. (2004). Globalization and Religious Nationalism: Self-identity and the Search for Ontological Security. Lund University.
  • Lerche, Ch. (1988). The Conflicts of Globalization. International Journal of Peace Studies , Vol. 3 No. 1.
  • Natalie, S. (2010). Chapter 6. Globalization and Nationalism: the Relationship Revisited In: Globalization and Nationalism: The Cases of Georgia and the Basque Country [daring]. Budapest: Central European University Press.
  • Riggs, F. (2002). Globalization, Ethnic Diversity, and Nationalism: the Challenge for Democracies. The Annals of American Academy of Political and Social Science. Sage.
  • Robertson, R. (1992). Globalization: Social Theory and Global Culture. London: Sage.
  • Robertson, R. (1996). Globalization: Social Theory and Global Culture. London. Sage.
  • Sassen, S. (1998). Globalization and Its Discontents. New York: New Press.
  • Smith, A. (1998). Nationalism and Modernism. London, Routledge.
  • Tak Diketahui, 2009. Nationalism and Globalization. Website. Tersedia di www.mrglobalization.com. Diakses 5 Juni 2013.
  • Venstad, T. (2012). The Westphalian Imaginary. Tersedia di scinternationalreview.org. Diakses 17 Mei 2013.
  • Waters, M. (2001). Globalization, Edisi Kedua: Routledge.

Ditulis oleh: Tammam O. Abdulsattar
Ditulis di: Middle East Technical University
Ditulis untuk: Luciano Baracco
Tanggal penulisan: Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s