Akankah Nasionalisme Lenyap Dalam 100 Tahun ke Depan?

Oleh: Victor Nadein-Raevsky
13 Desember 2013
Sumber: Russian Council

Nasionalisme, yang di masa Uni Soviet didefinisikan tak lebih dari “relik kapitalisme”, masih menjadi ciri permanen masyarakat manusia. Bangsa-bangsa baru bermunculan dalam negara-negara baru, yang bukan saja mengulangi cara bangsa-bangsa Eropa “lama”, tapi juga menambahkan corak Muslim pada gagasan nasionalis masa lampau. Di saat yang sama, gerakan lama pan-nasional yang bermaksud mendirikan entitas-entitas negara besar sedang melejit kembali. Di masa depan, Rusia pasti menjadi medan perang pemikiran antara gerakan nasionalis lama dan baru.

Foto: Arthur M. Sackler Gallery, Smithsonian Institution,
“Picture of People of the Five Nations: Walking in Line” oleh Sadahide, 1861

Istilah “nasionalisme” di masa kekuasaan Uni Soviet mempunyai konotasi negatif. Pada waktu itu nasionalisme dipahami sebagai “ideologi dan kebijakan yang mengakui penyekatan dan eksklusivitas kebangsaan, ketidakpercayaan terhadap bangsa lain, dan permusuhan antar-etnis”. Menurut teori Marxist, kapitalisme patut disalahkan atas kemunculan nasionalisme dan pendirian negara bangsa sebagai sistem yang mempertahankan diri dari perluasan pemilik asing dan pasar asing. Kaum Marxist hanya mengecualikan “nasionalisme bangsa tertindas”, yang menurut mereka butuh dukungan dalam memperjuangkan pembebasan nasional.

Marxist Rusia percaya bahwa dengan hilangnya perbatasan nasional, yang berabad-abad memecah-belah penduduk, persaudaraan agung masyarakat akan menggantikan bangsa-bangsa. Namun, bukan kaum komunis saja yang percaya pada bakal hilangnya bangsa-bangsa dan paham kebangsaan. Ada harapan tinggi bahwa komunitas manusia supranasional dan kesadaran relevan khalayak akan muncul melalui datangnya globalisasi.

Meski demikian, nasionalisme belum lenyap, dan proses pendirian bangsa Eropa bersama, contohnya, belum membuat bangsa-bangsa atau paham kebangsaan menghilang.

Saat ini nasionalisme kian bertransformasi menjadi bentuk swa-identifikasi kelompok, sebuah refleks defensif kelompok etnis yang semakin kuat di bawah ancaman pengenceran di dalam komunitas lebih besar—komunitas dunia, Eropa, atau lain-lain. Bentuk “nasionalisme defensif” ini kemungkinan besar akan disimpan di gudang senjata gerakan-gerakan kebangsaan untuk masa mendatang.

Foto: one-europe.info

Uni Eropa dan Nasionalisme

Ketika Uni Eropa didirikan dan perbatasan nasional menghilang, yang memperkenankan pergerakan penduduk ke seantero Eropa, secara teoritis tembok etnis-budaya ikut runtuh. Namun identitas kebangsaan, yang menjadi dasar nasionalisme, bukan saja tidak menghilang, tapi justru memperoleh ciri baru. Lembaga-lembaga negara di UE jadi semakin terfragmen, yang terus mempengaruh politik dalam negeri dari sudutpandang supranasional.

Minoritas kebangsaan mulai menyerang pusat-pusat negara-bangsa, memanfaatkan wewenang administratif yang melemah. Mereka menuntut hak kebangsaan mereka diperluas dan mereka mempertontonkan kesiapan untuk berkontribusi pada fragmentasi politik negara-negara ini. Kita menduga proses ini bukan saja semakin intenstif (contohnya di Spanyol, Inggris, dan Belgia), tapi juga mendorong kawasan lain untuk menuntut pelebaran hak kebangsaannya sendiri dan pembatasan wewenang negara-bangsa yang didirikan secara terpusat.

Boleh jadi akan timbul aspirasi otonomi kebangsaan di antara warga “baru” Jerman, Prancis, Belanda, dan Inggris, yang diwakili oleh minoritas etnis keagamaan baru: “orang Eropa” dari Turki, Arab, Pakistan, dan Afrika. Konsolidasi gerakan-gerakan di lingkungan baru ini akan berkembang utamanya sepanjang tema etnis-agama dengan aksen Islam yang baru. Basis keagamaan dari konsolidasi komunitas baru Eropa perlahan-lahan akan mengalah pada campuran agama dan nasionalisme, yang belum pernah menjadi ciri Islam tradisional. Lebih jauh, akan tumbuh fragmentasi di dalam organisasi dan gerakan politik dan sosial yang mewakili kepentingan perhimpunan etnis-agama warga baru Eropa ini. Perhimpunan-perhimpunan ini akan semakin dibutuhkan oleh partai-partai politik lama tradisional Eropa yang sangat mengandalkan suara [elektoral] kompatriot “baru” mereka.

Proses-proses di atas seharusnya membuat nasionalisme baru ini mekar. Di satu sisi, berbagai doktrin etnis-agama “warga baru Eropa” akan bermunculan, dan di sisi lain, nasionalisme “defensif” “warga lama Eropa” akan diperparah oleh konsolidasi komunitas etnis warga baru Eropa. Nasionalisme jenis ini akan berkarakteristik mirip dengan National Socialism di Jerman pra-perang, tapi beradaptasi dengan pencapaian sains dan teknologi modern. Oleh karenanya, perkembangan doktrin nasionalisme defensif baru akan semakin bercirikan ras dan membuahkan pendirian asosiasi-asosiasi politik internasional, serupa dengan “Brown International”, atas dasar partai dan gerakan nasionalis Eropa. Hari ini asosiasi demikian masih menanti kalangan teoris yang punya waktu untuk “menyeka debu” dari buku-buku usang para teoris rasisme Inggris Raya dan membangkitkan “karya” para teoris Jerman yang bekerja untuk kantor A. Rosenberg, meski terdapat larangan propaganda ras dan sosialisme kebangsaan di sebagian besar negara Eropa.

Foto: voty.com
Demonstrasi di Barcelona, 16 Februari 2006

Alhasil, perhimpunan nasionalis, atau lebih tepatnya ultra-nasional, tak ayal lagi akan menguat di seluruh Eropa. Mereka akan mendapat persentase suara signifikan dalam pemilu demokratis dan lalu bersatu menjadi partai radikal multi-nasional dengan aroma ultra-nasionalis yang kuat, mungkin bertransformasi menjadi rasisme terang-terangan.

Naiknya faksi-faksi “Nationalist International” ke tampuk kekuasaan di beberapa negara dan kawasan akan mempunyai dampak politik penting di negara-negara Eropa selama beberapa dasawarsa ke depan.

Islam dan Nasionalisme

Gagasan nasionalis dari Dunia Islam menarik perhatian khusus. Persentase signifikan dari komunitas Muslim telah meninggalkan upaya-upaya untuk membangun doktrin kebangsaan baru mereka atas dasar campuran Islam dan nasionalisme sebagai akibat dari inkonsistensi teoritis di antara kedua filosofi. Upaya untuk untuk menciptakan simbiosis nasionalisme dan Islam masih dikejar dalam gagasan pan-Turkisme—yakni pendirian Negara Turki dari Adriatik sampai Pasifik (“Turan Raya”), pan-Turanisme—sebagai kesatuan “bangsa Turan”, atau bangsa rumpun bahasa Urals dan Altai; dan kemudian Turkisme yang berpadu dengan tren kuat pan-Turkis.

Semua gagasan dan doktrin ini mengakui Islam sebagai salah satu unsur utama “Bangsa Turkis” yang memadukan nasionalisme dan agama. Kemudian, pada puncak kenaikan revolusi selama kwarter pertama abad 20, bermunculan aliran-aliran etnis-agama pemikiran masyarakat yang baru. Mereka adalah buah dari upaya memadukan doktrin etnis-agama dengan gagasan kesetaraan sosial. “Komunis Turkis” di Rusia Soviet mulai mengembangkan gagasan Negara masa depan berdasarkan perpaduan Islam dan Sosialisme.

Foto: europeanbusinessreview.com
Gagasan pembentukan Negara “Turan Raya”, yang selama berabad-abad menggoda hati dan pikiran sebagian pihak elit penguasa Turki, menghadapi rintangan yang sama yang niscaya timbul seandainya mereka meluncurkan proyek dikenal ini atau proyek-proyek Eurasia baru.

Pencarian fondasi organisasi Negara baru berlanjut sepanjang abad 20. Dilakukan upaya-upaya untuk menciptakan Republik Arab Bersatu berlandaskan Islam dan nasionalisme—gagasan yang kemudian gagal.

Namun ini tidak mengimplikasikan gagasan unifikasi takkan datang lagi. Sangat mungkin para pemimpin karismatik baru akan muncul di Arab Timur, mampu menyatukan negara-negara dan komunitas-komunitas di bawah panji pan-Arabisme. Gagasan wilayah Arab-Muslim sebagai poros seluruh dunia Islam terus menggairahkan para pemikir Muslim Arab. Gagasan ini kemungkinan besar dianut oleh pemimpin Ikhwanul Muslimin ataupun “penyatu” yang belakangan menanjak—para pendukung pemikiran Salafi yang menyatakan kembali ke “Islam murni” yang menghubungkan Islam dengan kesetaraan sosial. Sementara itu, nasionalisme di komunitas Arab akan terus berkembang, mengulangi logika dasar evolusi suara hati masyarakat. Pasar nasionalisme yang muncul di negara-negara Arab dan Afrika akan terus mencegah pembentukan perhimpunan negara supranasional. Ini akan mengakibatkan kegagalan mutlak pan-Arabisme dan pan-Islamisme, upaya untuk membangun masyarakat baru dan kemenangan gagasan uni supranasional berisi negara-negara dan komunitas-komunitas.

Akan tetapi dunia Islam sedang tercoreng instabilitas yang menjegal. Rebutan dominasi antara para pemimpin Sunni dan Syiah di Umat Islam tak ayal lagi akan menggilas usaha Iran untuk menjadi pemimpin dunia Muslim. Juga diperkirakan, akibat upaya mereka merusak kenegaraan Iran, lawan-lawan rezim Iran, baik di Barat maupun di kalangan pemimpin Sunni, akan berjudi dengan kembalinya nasionalisme Persia di satu sisi dan mendukung gerakan-gerakan minoritas kebangsaan (Azerbaijan, Turkmen, Kurdi, Arab, dan Baluchi) di sisi lain.

Nasionalisme dan Rusia

Di antara semua gerakan dan doktrin nasionalis menyeluruh, pan-Turkisme tampaknya merupakan gagasan paling ulet dan lama untuk pengembangan landasan filosofis doktrin nasionalis dan etnis-agama di masa mendatang. Selama beberapa dasawarsa ke depan, Rusia akan lagi-lagi menjadi medan perang bagi pemikiran ini—bukan saja di kawasan Turkis Rusia dan Turkis-Muslim tapi juga di wilayah metropolitan ke mana Muslim Turkis Asia Tengah terus berdatangan.

Foto: REUTERS/Johannes Eisele Alexander Tevdoy-Burmuli
Radikal Sayap Kanan di Eropa: Akankah Ketel Tersebut Meledak?

Kelihatannya nasionalisme komunitas “berjumlah kecil” atau versi “Rusia Raya” dalam berbagai wujudnya akan bergantung pada kondisi politik dalam negeri dan luar negeri atau kemajuan/kemandekan perkembangan ekonomi dan sosial negara. Kaum optimis (contohnya Alexander Dugin) sangat yakin Rusia akan bertransformasi menjadi Uni Eurasia—hamparan tanah luas yang mencakup teritori republik-republik pasca Soviet, berporos pada jantung negeri Rusia sebagai aktor mandiri di dunia multikutub.

Terlepas dari prediksi optimistis memikat yang disodorkan A. Dugin, rasanya negara Rusia tidak dapat menciptakan kembali suatu jenis kekaisaran baru. Upaya-upaya untuk mengimplementasikan skenario ini pasti berhadapan dengan langkah kontra dari Eropa dan “Washington Obkom”. Bukan tanpa alasan “sahabat tersumpah” Rusia, Zbigniew Brzezinski, menulis pada 1980-an silam bahwa kendali total atas benua Eurasia kini menjadi prasyarat untuk dominasi global. Tentu saja, dia mencoba membuktikan aspirasi AS akan dominasi ini.

Namun yang lebih penting adalah memperhitungkan realitas sosial dan ekonomi modern—yakni pasar yang coba dijangkau kaum liberal dalam negeri mati-matian. Di bawah hubungan pasar saat ini, status-status makro awalnya mahal dan tak menguntungkan secara definisi dan sumberdaya Rusia hampir tak sanggup membayar jenis “persaudaraan bangsa Eurasia” baru.

Ada satu rintangan lain untuk “Big Eurasia” yang tak kalah penting. Sudah jelas, para elit nasional kuat dan mapan dari bekas republik-republik Soviet takkan setuju dengan pendirian ulang satu Negara kuasa, atau mengizinkan “Big Brother” baru berakar di tanah mereka. Ini juga berlaku untuk “proyek Eurasia” lain yang siap Turki jalankan. Gagasan pendirian Negara “Turan Raya”, yang selama berabad-abad menggoda hati dan pikiran sebagian pihak elit penguasa Turki, menghadapi rintangan yang sama yang niscaya timbul seandainya mereka meluncurkan proyek dikenal ini atau proyek-proyek Eurasia baru.

Namun, proyek pan-Turkis serta gagasan “Eurasianisme atau Neo-Eurasianisme” takkan hilang dan akan terus merangsang hati dan pikiran pengikutnya. Kedua proyek “makro-nasionalisme” tersebut akan disimpan di gudang senjata ideologi para pembuat kebijakan dan filsuf generasi baru. Oleh karenanya, selama beberapa dasawarsa ke depan, otoritas Rusia akan harus menghadapi proyek pan-Turkis dan berbagai gagasan Islam dan nasionalis-Islam dengan sesuatu yang lebih internasional dan lebih berorientasi ke arah sistem nilai Rusia, berlandaskan koeksistensi banyak bangsa, denominasi agama, dan budaya kebangsaan. Dalam hal ini, gagasan komunitas Eurasia berlandaskan koeksistensi setara beraneka bangsa, agama, dan budaya, kemungkinan besar akan tetap ada dalam gudang senjata “proyek unifikasi nasional” Rusia modern.

Prospek dan Solusi

Mungkinkah kita dapat mengatasi tuntas permasalahan antarbangsa dan kelompok-kelompok etnis di dalam bangsa-bangsa ini? Mungkinkah kita dapat meraih perdamaian dan kerukunan antar-etnis dengan mengadaptasi aturan main dasar yang ditetapkan oleh hukum dan tradisi adat berlandaskan saling menghormati dan mengakui hak komunitas “berjumlah kecil” dan konsesi dari bangsa “lebih besar”? Pengalaman umat manusia menunjukkan ini mustahil. Laju perkembangan bangsa, komunitas, kelompok etnis, dan suku menyediakan bukti kenyataan mapan: proses perkembangan bersifat tak tentu dan pencarian identitas nasional merupakan proses berulang dan berkelanjutan.

Ini membawa pada kesimpulan tak terhindari: tak ada yang bisa diputuskan secara tuntas. Kita harus terus mencari pendekatan baru dan solusi baru mengingat persyaratan eksistensi dan perkembangan kelompok etnis terus berevolusi. Kehilangan dinamisme dalam mereformasi hubungan kebangsaan akan mengakibatkan pertentangan yang dapat menyulut “ledakan” dan pertumpahan darah.

Hari ini tak ada jaminan bahwa seratus tahun ke depan umat manusia akan belajar menghindari kekeliruan dalam mengatasi permasalahan kebangsaan. Pandangan buta persepsi nasionalis, yang kerap mencegah kita melihat permasalahan ini apa adanya, menimbulkan dan akan menimbulkan ledakan rutin dalam hubungan kebangsaan di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s