Oleh: Rachel Nuwer
19 Desember 2014
Sumber: BBC

Ateisme sedang menanjak di seluruh dunia, apakah itu berarti kerohanian akan segera menjadi barang masa lalu? Rachel Nuwer mendapati jawabannya jauh dari sederhana.

Kian banyak orang, jutaan di seluruh dunia, mengaku percaya bahwa kehidupan berakhir pada kematian—bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada akhirat, dan tidak ada rencana ilahi. Dan pandangan ini boleh jadi sedang mendapat momentum—meski tak ada sorak-sorai. Di beberapa negara, ateisme terang-terangan tidak pernah populer.

“Orang ateis hari ini lebih banyak daripada sebelumnya, baik dalam hal jumlah maupun sebagai persentase manusia,” kata Phil Zuckerman, profesor sosiologi dan studi sekular di Pitzer College di Claremont, California, dan pengarang Living the Secular Life. Menurut sebuah survey Gallup International terhadap lebih dari 50.000 orang di 57 negara, jumlah individu yang mengaku beragama turun dari 77% ke 68% antara 2005 s/d 2011, sementara mereka yang mengaku ateis naik sebanyak 3%—mengantarkan proporsi orang kukuh tak beriman ke angka kira-kira 13%.

Meski kaum ateis bukan mayoritas, mungkinkah angka-angka ini pertanda keadaan mendatang? Dengan asumsi kecenderungan global terus berlanjut, mungkinkah suatu hari nanti agama menghilang sepenuhnya?

Adalah mustahil meramalkan masa depan, tapi memeriksa apa yang kita tahu soal agama—termasuk kenapa ia berevolusi, dan kenapa sebagian orang memilih mengimaninya dan sebagian lain mengabaikannya—dapat memberi petunjuk bagaimana kelangsungan hubungan kita dengan perkara ilahi pada beberapa dasawarsa dan abad mendatang.

Seorang pendeta di Ukraina memegang salib di reruntuhan gedung Trade Union, Kiev, awal tahun ini. (Getty Images)

Para cendekiawan masih mencoba menyisir faktor-faktor kompleks yang mendorong seseorang atau negara menuju ateisme, tapi ada beberapa keumuman. Sebagian dari daya tarik agama adalah ia menawarkan keamanan di dunia yang tak pasti. Jadi tak mengejutkan, negara-negara yang melaporkan tingkat ateisme tertinggi cenderung mereka yang menyediakan stabilitas ekonomi, politik, dan eksistensi relatif tinggi untuk warganya. Keamanan di masyarakat tampaknya mengurangi keyakinan beragama,” kata Zuckerman. Kapitalisme, akses teknologi, dan pendirikan juga sepertinya berkorelasi dengan pengikisan keberagamaan di beberapa populasi, imbuhnya.

Krisis iman

Jepang, Inggris, Kanada, Korea Selatan, Belanda, Republik Ceko, Estonia, Jerman, Prancis, dan Uruguay (di mana mayoritas warga mempunyai akar Eropa) adalam tempat-tempat di mana agama begitu penting seabad lalu, tapi kini melaporkan tingkat keimanan terendah di dunia. Negara-negara ini bercirikan sistem pendidikan dan jaminan sosial kuat, ketidaksetaraan rendah, dan semuanya relatif kaya. “Pada dasarnya, orang-orang tidak terlalu khawatir dengan apa yang akan menimpa mereka,” kata Quentin Atkinson, psikolog di Universitas Auckland, Selandia Baru.

Gadis-gadis Yaman memperlihatkan tangan berhiaskan corak pacar tradisional saat merayakan akhir Ramadan. (Getty Images)

Tapi penurunan kepercayaan tampaknya terjadi secara luas, mencakup tempat-tempat yang masih sangat agamis, seperti Brasil, Jamaika, dan Irlandia. “Sedikit sekali masyarakat yang lebih agamis hari ini daripada 40 atau 50 tahun silam,” kata Zuckerman. “Satu-satunya pengecualian mungkin Iran, tapi itu licin karena orang-orang sekuler di sana mungkin menyembunyikan kepercayaan mereka.”

AS juga asing lantaran ia salah satu negara terkaya di dunia tapi mempunyai tingkat keberagamaan tinggi. (Tetap saja, survey Pew teranyar mengungkap bahwa, antara 2007 s/d 2012, proporsi orang Amerika yang mengaku ateis naik dari 1,6% ke 2,4%.)

Tapi turun bukan berarti lenyap, kata Ara Norenzayan, psikolog sosial di Universitas British Columbia di Vancouver, Kanada, dan pengarang Big Gods. Keamanan eksistensial lebih rentan keliru daripada kelihatannya. Dalam sesaat, segalanya bisa berubah: sopir mabuk bisa membunuh pacar; tornado bisa memusnahkan sebuah kota; dokter bisa menerbitkan diagnosa akhir. Seiring perubahan iklim menimbulkan malapetaka pada dunia di tahun-tahun mendatang dan sumberdaya alam berpotensi semakin langka, maka penderitaan dan kesulitan dapat menyulut keberagamaan. “Orang-orang ingin lepas dari penderitaan, tapi mereka tak bisa keluar darinya, mereka ingin mencari makna,” kata Norenzayan. “Untuk suatu alasan, agama memberi makna pada penderitaan—jauh melebihi cita atau kepercayaan sekuler apapun yang kita kenal.”

Di Filipina, penyintas Topan Super Haiyan berbaris dalam sebuah arak-arakan keagamaan. (Getty Images)

Fenomena ini berlangsung terus-menerus di ruang-ruang rumah sakit dan wilayah-wilayah bencana di seluruh dunia. Pada 2011, misalnya, gempa besar menghantam Christchurch, Selandia Baru—sebuah masyarakat amat sekuler. Terdapat lonjakan keberagamaan mendadak pada orang-orang yang mengalami peristiwa itu, tapi sisa penduduk negara tersebut tetap sekuler. Meski ada pengecualian pada aturan ini—contohnya agama di Jepang jatuh terjerembab pasca Perang Dunia II—mayoritas, kata Zuckerman, kita menganut model Christchurch. “Jika mengalami sesuatu yang dahsyat menyebabkan semua orang jadi ateis, maka kita semua akan menjadi ateis,” ujarnya.

Pikiran tuhan

Tapi jikapun masalah dunia terpecahkan secara ajaib dan kita semua hidup damai dalam keadilan, mungkin agama akan tetap ada. Ini karena lubang berwujud tuhan eksis dalam neuropsikologi spesies kita, berkat kekhasan evolusi kita.

Seorang rabbi sedang membaca pada saat perayaan Purim. (Getty Images)

Untuk memahami ini kita perlu dalami “teori proses dwirangkap”. Bahan baku psikologis ini menyatakan bahwa kita memiliki dua bentuk pemikiran dasar: Sistem 1 dan Sistem 2. Sistem 2 berevolusi relatif belakangan. Suara dalam kepala kita—narator yang tak pernah tutup mulut—memungkinkan kita berencana dan berpikir logis.

Sistem 1, di sisi lain, bersifat intuitif, naluriah, dan otomatis. Kecakapan-kecakapan ini berkembang teratur pada manusia, tak peduli di mana mereka dilahirkan. Ini adalah mekanisme bertahan hidup. Sistem 1 menganugerahi kita rasa jijik terhadap daging busuk, memperkenankan kita bicara dengan bahasa bawaan tanpa memikirkannya, dan memberi bayi kemampuan untuk mengenali orangtua dan membedakan antara benda hidup dan tak hidup. Ini membuat kita rentan mencari pola-pola untuk lebih memahami dunia kita, dan untuk mencari makna atas peristiwa acak seperti bencana alam atau kematian orang tercinta.

Seorang Sikh India menyalakan lilin pada saat Bandi Chhor Divas, atau Diwali. (Getty Images)

Selain membantu kita mengarungi bahaya dunia dan menemukan pasangan, sebagian cendekiawan menduga Sistem 1 juga memungkinkan agama berevolusi dan terus hidup. Sistem 1, contohnya, membuat kita siap secara naluri untuk melihat kekuatan-kekuatan kehidupan—fenomena yang disebut hypersensitive agency detection—ke manapun kita pergi, tak peduli apakah mereka ada atau tidak. Bermilenium-milenium silam, kecenderungan ini mungkin membantu kita menghindari bahaya tersembunyi, misalnya singa yang meringkuk di rumput atau ular berbisa yang bersembunyi di semak. Tapi ini juga membuat kita rentan menyimpulkan eksistensi agen tak kasat mata—entah berbentuk tuhan maha baik yang mengawasi kita, leluhur tak habis-habis yang menghukum kita dengan kemarau, atau monster yang bersembunyi dalam bayang-bayang.

Demikian halnya, Sistem 1 mendorong kita memandang sesuatu secara dwirangkap, artinya kita kesulitan memikirkan pikiran dan tubuh sebagai satu kesatuan. Kecenderungan ini muncul cukup dini: anak-anak, apapun latar belakang budaya mereka, condong percaya bahwa mereka mempunyai jiwa abadi—bahwa intisari atau kepribadian mereka eksis di suatu tempat sebelum mereka lahir, dan akan terus eksis. Kecenderungan ini mudah berasimilasi ke dalam banyak agama yang ada, atau—dengan sedikit kreativitas—membantu merancang konstruk asli.

Pemuja Hindu India sehari menjelang festival Chhat. (Getty Images)

“Kolega saya, seorang psikolog Skandinavia yang ateis, memberitahukan bahwa puterinya berusia 3 tahun baru-baru ini menghampirinya dan berkata, ‘Tuhan ada di mana-mana sepanjang waktu.’ Dia dan isterinya tak habis pikir dari mana puterinya mendapat ide itu,” kata Justin Barrett, direktur Thrive Center for Human Development di Fuller Theological Seminary di Pasadena, California, dan pengarang Born Believers. “Bagi puterinya, tuhan adalah wanita tua, jadi, Anda paham, dia tidak mendapatkannya dari gereja Luther.”

Atas semua alasan ini, banyak cendekiawan percaya bahwa agama timbul sebagai “produk sampingan fitrah kognitif kita”, kata Robert McCauley, direktur Center for Mind, Brain and Culture di Universitas Emory di Atlanta, Georgia, dan pengarang Why Religion is Natural and Science is Not. “Agama adalah susunan budaya yang berevolusi hingga mengikutsertakan dan memanfaatkan kapasitas-kapasitas alami manusia ini.”

Kebiasaan sulit untuk diputus
Ateis harus berjuang melawan semua bagasi budaya dan evolusioner itu. Manusia secara alami ingin percaya bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, bahwa hidup tidak sepenuhnya sia-sia. Pikiran kita mendambakan tujuan dan penjelasan. “Dengan pendidikan, jamahan sains, dan pemikiran kritis, orang-orang mungkin akan berhenti mempercayai intuisi mereka,” kata Norenzayan. “Tapi intuisi itu ada.”

Muslim Azerbaijan shalat di akhir Ramadan. (Getty Images)

Di sisi lain, sains—sistem pilihan yang dilirik banyak ateis dan orang tak beriman untuk memahami dunia alami—bukanlah pil kognisi mudah untuk ditelan. Sains adalah tentang meralat bias Sistem 1, kata McCaulay. Kita harus terima bahwa Bumi berputar, sekalipun kita tak pernah merasakan kegemparannya. Kita harus peluk ide bahwa evolusi biasa-biasa saja dan bahwa tak ada rencana atau tujuan tertinggi pada Alam Semesta, sekalipun intuisi kita berkata lain. Kita juga kesulitan untuk mengakui bahwa kita keliru, untuk melawan bias kita sendiri, dan untuk menerima bahwa kebenaran yang kita pahami senantiasa berubah seiring terhimpun dan terujinya data empiris baru—semua bahan baku sains. “Sains bersifat tidak alami secara kognitif—itu sulit,” kata McCauley. “Agama, di sisi lain, adalah sesuatu yang tak perlu kita pelajari karena kita sudah mengetahuinya.”

“Terdapat bukti bahwa pemikiran agamis adalah jalan perlawanan paling minimal,” imbuh Barrett. “Anda harus mengubah sesuatu tentang kemanusiaan kita secara fundamental untuk menyingkirkan agama.” Hambatan biologis ini mungkin menjelaskan fakta bahwa, kendati 20% warga Amerika tidak berafiliasi dengan suatu gereja, 68% dari mereka menyatakan masih percaya Tuhan dan 37% menggambarkan diri mereka sebagai sosok spiritual. Tanpa agama terorganisir sekalipun, mereka percaya suatu entitas agung atau kekuatan kehidupan memandu dunia.

Para biksu Buddha berbaris menuju upacara di kelenteng Sampov Treileak di Kamboja. (Getty Images)

Demikian pula, banyak orang di seluruh dunia yang mengaku tak percaya pada tuhan masih menyimpan kecenderungan takhayul, seperti kepercayaan pada hantu, astrologi, karma, telepati, atau reinkarnasi. “Di Skandinavia, mayoritas orang mengaku tak percaya Tuhan, tapi kepercayaan paranormal dan takhayul cenderung lebih tinggi dari yang Anda duga,” kata Norenzayan. Selain itu, orang-orang tak beriman sering bersandar pada apa yang ditafsirkan sebagai proksi keagamaan—tim olahraga, yoga, lembaga profesio, Bunda Alam, dan lain-lain—untuk membimbing nilai-nilai mereka dalam kehidupan. Sebagai buktinya, ilmu sihir sedang meraih popularitas di AS, dan paganisme menjadi agama paling cepat tumbuh di Inggris.

Pengalaman keagamaan untuk orang tak beriman juga bisa terwujud dengan cara lain yang lebih ganjil. Antropolog Ryan Hornbeck, juga di Thrive Center for Human Development, menemukan bukti bahwa World of Warcraft (WoW) memangku nilai spiritual bagi sebagian pemain di China, sebagai contoh. “WoW seolah menawarkan peluang untuk mengembangkan ciri moral tertentu yang tidak terjangkau oleh kehidupan biasa di masyarakat kontemporer,” kata Barrett. “Orang-orang seolah mempunyai ruang konseptual pemikiran agamis ini, yang—jika tidak diisi oleh agama—menggelembung secara mengejutkan.

In-group

Terlebih, agama menggalakkan kohesi kelompok dan kerjasama. Ancaman Tuhan (atau dewa-dewa) maha kuasa yang mengawasi siapapun pelanggar batas kemungkinan besar membantu menjaga ketertiban di masyarakat kuno. “Ini adalah hipotesis hukuman supranatural,” kata Atkinson. “Jika setiap orang percaya bahwa hukuman ini nyata, maka itu bisa berfungsi bagi kelompok.”

Pemuja di Festival Vegetarian Thailand. (Getty Images)

Dan lagi-lagi, ketidakamanan dan penderitaan dalam populasi mungkin berperan di sini, dengan membantu mendorong agama-agama berstandar moral lebih ketat. Dalam analisa terbaru terhadap sistem-sistem keyakinan keagamaan dari hampir 600 masyarakat tradisional di seluruh dunia, Joseph Bulbulia di Universitas Wellington, Selandia Baru, dan rekan-rekannya menemukan bahwa tempat-tempat bercuaca lebih keras atau lebih rawan bencana alam lebih mungkin mengembangkan dewa-dewa pemoral. Kenapa? Tetangga yang menolong bisa berarti selisih antara hidup dan mati. Dalam konteks ini, agama berevolusi sebagai fasilitas umum berharga.

“Saat kita melihat sesuatu yang begitu meresap, sesuatu yang muncul begitu cepat secara perkembangan dan tetap hidup di seluruh budaya, maka masuk akal bahwa penjelasan utamanya adalah ia berfungsi koperatif,” kata Bulbula.

Terakhir, ada pula matematika sederhana di balik ketangkasan agama untuk menang. Di seluruh budaya, orang-orang yang lebih agamis juga cenderung punya lebih banyak anak daripada mereka yang tidak. “Terdapat bukti kuat untuk ini,” kata Norenzayan. “Bahkan di antara masyarakat agamis, orang-orang fundamentalis biasanya mempunyai tingkat kesuburan lebih tinggi daripada orang-orang liberal.” Ditambah fakta bahwa anak-anak tipikalnya mencontoh orangtua mereka terkait apakah mereka menjadi orang dewasa agamis atau tidak, dan dunia tersekulerisasi total terasa lebih tidak mungkin.

Keyakinan abadi

Atas semua alasan ini—psikologis, neurologis, historis, budaya, dan logistik—para ahli menduga agama takkan pernah lenyap. Agama, entah dipertahankan melalui ketakutan atau cinta, sangat berhasil melanggengkan dirinya. Jika tidak, ia takkan lagi ada di tengah kita.

Dan kalaupun kita mulai tak menyaksikan tuhan-tuhan Kristen, Muslim, dan Hindu, dan semuanya, takhayul dan spiritualisme hampir pasti akan tetap berlaku. Sementara itu, sistem keagamaan lebih formal kemungkinan besar akan menyusul satu atau dua bencana alam. “Bahkan pemerintahan sekuler terbaik tidak bisa melindungi Anda dari segalanya,” kata McCauley. Begitu kita berhadapan dengan krisis ekologis, perang nuklir global, atau benturan komet, tuhan-tuhan akan bermunculan.

“Manusia perlu pelipur di hadapan rasa sakit dan penderitaan, dan banyak orang perlu menganggap ada sesuatu yang lain setelah kehidupan ini, dan bahwa mereka disayangi oleh entitas tak kasat mata,” kata Zuckerman. “Akan selalu ada orang-orang beriman, dan saya takkan kaget jika mereka tetap mayoritas.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s